Teori Konspirasi dan Anti Media Vs Realita Serta Aksi Nyata

Teori Konspirasi dan Anti Media Vs Realita Serta Aksi Nyata

Pandemi Covid-19 menjadi fenomena baru di tahun 2020 ini, dan diyakini akan dikenang sampai puluhan tahun atau bahkan berabad-abad kemudian. Kemunculannya yang tiba-tiba dan menyebar secara masif membuat banyak pihak berspekulasi tentang apa yang menyebabkan virus corona ini merebak.

Beragam teori konspirasi pun muncul, dan tak sedikit individu yang tertarik dengan pemahaman-pemahaman yang belum terbukti kebenarannya itu. Sedangkan di sudut lain, banyak orang yang gusar dengan gempuran pemberitaan corona di media. Mereka beranggapan bahwa media hanya menjual ketakutan dan pesimisme terkait virus corona. Anggapan ini mungkin saja benar, namun apakah energi yang dikeluarkan untuk meributkan masalah itu sebaiknya digunakan untuk hal yang lebih membantu di saat yang benar-benar sulit ini?

Kontroversi dari Dua Pesohor

Seketika perhatian saya tertuju pada satu postingan Instagram Stories teman. Pada unggahan itu terdapat petikan video Instagram TV milik salah satu pesohor YouTube tanah air saat ini, Deddy Corbuzier. Dalam video itu sang mentalist mengemukakan pendapatnya terkait wabah corona. Deddy berujar, bahwa bisa saja data yang terkait dengan corona memang sengaja ditutupi oleh pemerintah. Bisa saja angka yang diumumkan ke publik itu tidak dikecilkan angkanya, justru malah dibesarkan melewati data sebenarnya.

Kemudian ia mengajak para pengikutnya untuk berpikir bila memang hal tersebut dilakukan oleh pemerintah, tindakan ini diambil untuk menimbulkan rasa takut di tengah masyarakat. Untuk menggambarkan situasi ini, Deddy mengambil kata dangerous dan fear sebagai analogi. Di mana pada kata pertama ia berkata bahwa memang benar-benar nyata terjadi dan pada kata berikutnya ia berujar bahwa memang ‘sengaja’ diciptakan oleh pihak tertentu untuk mewujudkan suatu tujuan.

Oke, ini baru kasus pertama. Ada kasus lainnya yang menarik perhatian saya.

Perjalanan saya berikutnya terhenti di satu situs media online yang mengupas fakta dari pernyataan seorang dokter bernama Moh Indro Cahyono. Pria yang belakangan dikenal sebagai Dokter Hewan dan Virolog ini membagikan informasi seputar Covid-19 yang cukup menarik perhatian.

Menurut Indro, fenomena di tengah pandemi Covid-19 ini telah menimbulkan hyper reality. Istilah ini ia pakai untuk menggambarkan kenyataan semu yang dijelaskan secara berlebihan. Adapun Indro berpendapat bahwa kenyataan terkait Covid-19 ini telah terbentuk sesuai dengan keinginan media, sehingga masyarakat mengabaikan fakta nyata yang menurutnya ada di depan mata.

Informasi ini diberikan Indro pada akun Facebook pribadinya di mana mendapatkan respon yang masif dari warganet. Unggahannya telah dibagikan sebanyak 2.500 kali dan mendapatkan reaksi dari 3.500 orang dan mengundang sebanyak 1.000 komentar.

Sebelum membagikan unggahan tersebut, nama Indro telah ramai disebutkan karena telah banyak diwawancarai oleh media online dan bahkan masuk di vlog artis kenamaan Indonesia seperti Anang Hermansyah dan Luna Maya. Namun kemunculannya di berbagai media menimbulkan kontroversi dan protes dari dunia medis.

Banyak yang menilai bahwa apa yang disampaikan oleh Indro ini berpotensi menyebabkan kesalahpahaman terkait virus corona dan membuat masyarakat menjadi meremehkan virus tersebut. Pada wawancaranya bersama Luna Maya, Indro menjelaskan bahwa Covid-19 memang membuat orang sakit dengan gejala batuk, flu, sesak napas namun hanya satu minggu. Kemudian satu minggu kemudian sembuh dengan sendirinya karena tubuh mulai memproduksi antibodi.

“Covid ini membuat sakit iya, tetapi tidak seganas atau membunuh seperti yang ada di media,” ujar Indro.

Sebaiknya Melakukan Tindakan Nyata

Bila melihat dua kasus yang saya sebutkan tadi. Sebenarnya baik Deddy Corbuzier dan Moh Indro Cahyono memiliki satu tujuan yang sama, yakni ingin menghimbau masyarakat agar keluar dari rasa takut dalam menghadapi Covid-19. Oke, secara niat memang benar baik karena rasa takut atau stres memang menjadi pemicu turunnya imuntas tubuh yang berfungsi untuk menangkal virus.

Namun, ada baiknya bila upaya baik tadi bisa dilakukan dengan lebih bijak tanpa membuat keresahan di tengah masyarakat. Fokus saya tertuju pada tenaga medis yang sedang berjuang di medan perang melawan virus corona. Dengan ujaran yang disampaikan oleh kedua sosok tersebut, secara tidak langsung akan memberatkan pekerjaan tenaga medis.

Pertama, dengan pernyataan baik dari Deddy maupun dari Indro tadi sangat berpotensi untuk membuat masyarakat mengurangi kewaspadaan terhadap virus corona. Pernyataan mereka bisa saja membuat masyarakat merasa aman dari ancaman pandemi tersebut.

Maka orang-orang bisa kembali beraktivitas normal dan potensi penyebaran virus corona menjadi meningkat.

Kedua, bila penyebaran virus corona kembali meningkat maka kemungkinan besar korban yang jatuh akan bertambah banyak dan membuat para tenaga medis menjadi kesulitan. Apakah sebaiknya kita meringankan pekerjaan mereka? Banyak kabar yang berseliweran jika para tenaga medis juga menjadi korban dari stigma negatif corona sehingga mereka mendapatkan penolakan dari masyarakat sekitar dan bahkan keluarganya sendiri.

Maka sudah sewajarnya kita semua membuat satu gerakan nyata untuk memberantas virus Covid-19, dengan terlebih dahulu menjaga kebersihan dan menuruti segala anjuran pemerintah. Bila hal tadi sudah dijalankan, maka membantu pihak yang membutuhkan bisa jadi hal baik yang dapat dilakukan. Banyak saluran donasi tersedia untuk membantu mereka yang terdampak cukup parah karena pandemi ini.

Upaya tersebut akan berjalan maksimal bila didukung semua pihak termasuk dua orang yang saya bahas dalam tulisan ini, semoga saja.

Share this article :
Vantage Banner Ads