Candi Jago Malang: Daya Tarik Wisata, Lokasi, dan Jam Buka

Salah satu kerajaan besar yang ada di tanah Jawa adalah Kerajaan Singasari. Candi Jago, menjadi peninggalan kerajaan tersebut, yang dibangun untuk menghormati rajanya kala itu, Sri Jaya Wisnuwardhana.

Sri Jaya Wisnuwardhana adalah raja yang memerintah Singasari pada masa itu dan mangkat pada tahun 1286 Masehi. Sebagai bentuk penghormatan, candi tersebut dibangun setelah Sri Jaya Wisnuwardhana meninggal dunia.

Menuut sejarah yang tertulis di Kitab Negarakertagama, Sri Jaya Wisnuwardhana menjadi raja Singasari selama tahun 1248-1268 Masehi. Raja Singasari tersebut memeluk Siwa Budha sebagai agamanya, yaitu perpaduan antara Budha dan Hindu Siwa.

Sejarah Singkat Candi Jago

Sejarah Singkat Candi Jago

Seperti namanya, candi ini terletak di Dusun Jago, arah timur Kota Malang sejauh 22 kilometer. Dusun Jago masuk dalam wilayah Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Sebagian masyarakat menyebutnya dengan nama Candi Tumpang, seperti nama kecamatannya.

Selain Candi Tumpang, candi Siwa Budha tersebut juga dinamakan Candi Cungkup. Candi dibangun oleh Raja Kertanegara untuk ayahnya, Sri Jaya Wisnuwardhana. Candi di Dusun Jago ini menjadi simbol harmonisasi agama Hindu dan Budha.

Daya Tarik Candi Jago

Daya Tarik Candi Jago

Candi di Kabupaten Malang, Jawa Timur ini memiliki daya tarik yang membuat wisatawan ingin mengunjunginya. Apa saja hal menarik dari candi tersebut?

1. Bentuk Candi

Cerita kebesaran Kerajaan Singasari dan Majapahit masih dikenal hingga sekarang. Mengenal bagian sejarah dari kedua kerajaan tersebut tentunya akan semakin menambah pengetahuan. Sejarah dua kerajaan besar di Jawa Timur tersebut bisa dilihat dari relief yang terdapat pada candi.

Candi secara keseluruhan berbentuk segi empat yang berukuran panjang 23,71 dengan tinggi 9,97 meter dan lebarnya 14 meter. Bagian bawahnya memiliki bentuk teras berundak dimana susunannya semakin ke atas semakin mengecil ukurannya.

2. Relief Candi yang Menceritakan Kisah Kerajaan Singasari

Daya tarik lainnya terdapat pada bagian reliefnya yang terdiri dari empat bagian, dimana masing-masing mengisahkan cerita pada zaman Singasari. Relief Candi Jago terbagi menjadi beberapa kisah cerita, yaitu :

Relief Kresnayana

Yang pertama disebut sebagai Relief Kresnayana yang mengisahkan pernikahan antara Wisnuwardhana dengan istrinya, Naraya Waningyun. Relief ini berada di teras ketiga candi. Wisatawan yang tertarik dengan kisah cinta Sri Jaya Wisnuwardhana bisa mengamati relief ini.

Relief Kunjarakarna

Di sisi timur laut candi terdapat relief yang dinamakan Kunjarakarna. Relief tersebut mengisahkan tentang raksasa bernama Kunjarakarna. Raksasa itu melakukan semedi di Gunung Semeru agar bisa berinkarnasi sebagai manusia biasa yang berwajah rupawan.

Kisah tentang raksasa Kunjarakarna diambil dari cerita yang ada dalam Budha Mahayana. Pada relief yang sama digambarkan juga bagaimana Buddha Wairocana membawa raksasa bernama Kunjarakarna tersebut ke neraka.

Kunjarakarna dibawa ke neraka dengan tujuan supaya dapat menyaksikan bagaimana konsekuendi yang harus diterima oleh manusia atas tindakan buruknya selama hidup di dunia. Pada bagian lainnya dikisahkan bagaimana cerita Kunjarakarna yang berasal dari kisah Mahabarata

Cerita Mahabarata tersebut memuat bagaimana ajaran Hindu yang terdiri dari Arjuna Wiwaha dan Parthayajna. Terdapat juga kisah peperangan yang terjadi antara Krisna yang melawan Kalayawana.

Relief Pancatantra

Beda lagi dengan kisah yang tergambar melalui Relief Pancatantra. Pada bagian ini, digambarkan tentang kisah brahmana yang mengabdikan ilmu kebijakan yang dimilikinya kepada tiga orang pangeran.

Dikisahkan dalam Relief Pancatantra, ketiga pangeran yang menjadi murid brahmana tersebut semuanya tuli atau tidak dapat mendengar. Sedangkan Pancatantra merupakan lima ajaran kehidupan dan kebijakan brahmana yang disampaikan pada ketiga pangeran tersebut.

Pancatantra terdiri dari perbedaan (Mittrabedha), kedatangan (Mitraprapti), peperangan dan perdamaian (Kakolukiya), kehilangan dan keberuntungan (Landhansa) serta tindakan terburu-buru (Apariksitakaritwa).

Relief Fabel

Di sebelah barat laut candi, terdapat relief pada bagian kaki yang disebut dengan Relief Fabel. Jika pada relief candi lainnya mengisahkan cerita tentang manusia, berbeda dengan yang satu ini. Relief Fabel mengisahkan cerita tentang binatang.

Kisah tersebut dibagi menjadi beberapa bagian yang terdiri atas beberapa panel. Dalam salah satu panel relief, mengisahkan tentang binatang kura-kura  yang memiliki keinginan agar bisa terbang. Kura-kura dibantu burung bangau agar bisa terbang, dengan membawa ranting pada kakinya.

Ranting tersebut kemudian digigit oleh kura-kura, dan burung bangau akan membawanya terbang. Dengan cara inilah kura-kura bisa terpenuhi keinginannya untuk terbang seperti burung.

3. Tempat Abu Raja Wisnuwardhana

Candi Jago yang menjadi bukti sejarah perpaduan agama Hindu Siwa dan Budha memiliki fungsi spesifik. Merujuk dari sejarahnya, candi tersebut mempunyai dua fungsi utama. Fungsi yang pertama adalah tempat dimana abu jenazah Raja Wisnuwardhana dikuburkan.

Fungsi pertama ini berkaitan erat dengan fungsi yang kedua, yaitu sebagai tempat untuk mendewakan serta memberikan penghormatan kepada Raja Wisnuwardhana. Penghormatan diberikan karena Raja Wisnuwardhana dianggap sebagai Budha Amoghapasa.

4. Bentuknya Bujursangkar Berundak

Candi  Jago di Kabupaten Malang ini memang dibangun pada masa Kerajaan Singasari, yang menganut ajaran Budha. Namun, dalam sejarahnya, Candi Tumpang atau Jago tersebut erat kaitannya dengan Kerajaan Majapahit yang menganut Hindu.

Candi ini menjadi simbol perpaduan yang harmonis antara ajaran Budha dan Hindu, yang dapat dilihat dari bentuknya. Candi dibangun dengan bentuk bujur sangkar pada bagian dasarnya. Sedangkan strukturnya berupa kaki dengan bentuk berundak tiga tingkat.

Candi yang memiliki nama lain Candi Tumpang tersebut, jika dilihat secara keseluruhan bentuknya memang tidak berbeda dengan punden berundak, yang menjadi ciri khas agama Hindu. Candi menghadap ke arah barat dengan tinggi bangunan sekitar 9,97 meter.

Lokasi Candi Jago

Candi yang menjadi bagian kisah dari Raja Hayam Wuruk tersebut berada di wilayah Kabupaten Malang, Jawa Timur. Lokasi tepatnya di Dusun Jago, Desa Tumpang, Kabupaten Malang, yang berjarak sekitar 22 kilometer dari Kota Malang ke arah timur.

Jika perjalanan ditempuh dari Malang, rute yang dapat dilewati yaitu Madyopuro ke Cemoro Kandang lalu menuju Kecamatan Pakis, Desa Tumpang. Candi berada di pusat kecamatan Tumpang, sekitar 500 meter dari pasar.

Kalau naik kendaraan umum, wisatawan dapat naik dari Terminal Arjosari dengan angkutan kota, lalu turun di Pasar Tumpang.

Fasilitas dan Jam Buka di Candi Jago

Semua wisatawan yang datang ke kompleks candi dapat menikmati fasilitas yang disediakan, seperti lahan parkir, toilet, warung makan, gazebo dan penginapan. Sudah banyak tempat menginap yang terdapat di sekitaran kompleks candi.

Candi dibuka setiap hari mulai pukul 07.00 – 18.00 atau jam 7 pagi sampai jam 6 sore. Semua wisatawan yang datang tidak perlu membayar tiket masuk, alias gratis.

Penutup

Kebesaran nama Kerajaan Singasari dan Kerajaan Majapahit, serta bagaimana hubungan harmonis diantara keduanya dapat dilihat dari peninggalannya, yaitu Candi Jago. Pada candi yang menjadi simbol perpaduan Hindu dan Budha tersebut, terdapat beberapa relief yang menarik.

Setiap relief menggambarkan kisah yang berbeda, mulai dari pernikahan raja Singasari, Sri Jaya Wisnuwardhana hingga kisah Mahabarata. Bentuk candi mirip dengan bangunan khas agama Hindu yaitu punden berundak.

Baca Juga: