Album Mewah Deftones: White Pony

Album berbahaya ini umurnya sudah 20 tahun, dan hingga sekarang masih terlalu enak untuk didendangkan. Karena Chino Moreno, Stephen Carpenter, Almarhum Chi Cheng, Frank Delgado, dan Abe Cunningham adalah komposer terbaik peracik new wave, trip hop, shoegaze, dream pop dan experimental post rock demi keutuhan sebuah album bernama ‘White Pony’.

White Pony sendiri merupakan bahasa slang dari kokain. Meski dalam sebuah wawancara Chino bilang kalau definisi album ini adalah kegiatan seks dalam sebuah wadah bermimpi yang dipenuhi ujaran-ujaran halusinasi.

Dirilis tahun 2000, White Pony sukses menebar cekaman rock yang berapi-api serta dipenuhi gelora tohokan-tohokan indusif para warrior penabuh genderang perang musik metal modern, yang sama sekali tidak terpengaruh oleh kiblat apapun. Mereka murni, musik Deftones hingga mati.

‘Knife Prty’ dan ‘Passenger’ adalah komposisi gawat. Di mana sound yang digelar Stephen Carpenter sangatlah kurang ajar. Enaknya keterlaluan, majunya kebangsatan. Kemudian cara-cara Chi Cheng masuk dalam menukas bunyi bas, luar biasa nyaman di kuping. Teror, namun merasuk. Edan.

Lalu bagaimana Chino Moreno merintih di lagu ‘Change’ adalah hal paling keren yang pernah dilakukan oleh seorang vokalis. Eksekusinya mantap. Sangar. Berkelas. Dan tidak akan pernah bisa ditiru oleh penyanyi mana pun di alam ini.

White Pony adalah sebuah gambaran album tersempurna pada awal 2000-an. Dari band bernyali yang attitude-nya juara. Ibarat ujian tes IQ, semua jawaban dilalap habis oleh Deftones dengan jawaban-jawaban yang penuh percaya diri, benar semua, dan tidak ada setitik pun keraguan di situ.

‘Back To School’ adalah hymne umat musik rock dan pop di beberapa belahan dunia. Aura khidmat selalu menyelimuti perasaan ini tatkala memulai proses mendengarkan lagu tersebut. Dan sekali lagi, pujian ini dituai demi Deftones, yaitu Deftones sampai mati.