Biang Rusuh Paling Brengsek di Liga Inggris

Banyak pesepakbola yang beringas dan lumayan ditakuti para lawannya saat mereka berlaga di lapangan hijau. Mereka kekar, punya emosi yang tidak begitu stabil, dan senang mengincar para pelukanya.

Mundur ke belakang, ada Eric Cantona yang beken dengan tendangan kungfu nya. Dia rela melewati batas garis lapangan sepak bola hanya untuk menendang pendukung Crystal Palace yang dianggap merusak mood nya saat bermain. Peristiwa tersebut berlangsung pada tanggal 25 Januari 1995. Bukan hanya itu saja, pria Marseille ini terkenal temperamental. Sepanjang karir di Leeds dan Manchester United, sudah banyak korban yang kena hantaman kaki maupun pukulan tangannya, baik itu sesama pemain maupun wasit.

Lalu ada Roy Keane yang gemar marah-marah. Kelahiran Irlandia ini canggih dalam hal memprovokasi lawan. Sepeninggal Paul Ince dan Bryan Robson dari setan merah di medio 95, dan saat dia menoreh karir dengan jabatan kapten Manchester United, banyak sudah musuh yang dia terabas demi regukan emosi duniawinya. Roy Keane adalah kapten terganas MU yang kedua setelah Eric Cantona. Kejadian paling fenomenal adalah perkelahian sengit dia dengan Patrick Vieira pada bulan Februari di tahun 2005.

Kemudian ada pangeran kecil dari Chelsea, yaitu Dennis Wise. Yang menjadi kapten tersukses di The Blues, sebelum tongkat estafet diserahkan kepada John Terry. Dennis adalah juragan temper. Jago dalam hal mengintimadasi lawan, dan pintar memanipulasi keadaan. Sempat dalam sebuah pertandingan Dennis berseteru secara ganas dengan Thiery Henry, Patrick Vierra, dan Robert Pires, di mana dia terlihat seperti seorang David yang sedang melawan 3 Goliath. Di bulan Juli tahun 2002 Dennis kena skorsing dari club tempat dia bermain, Leicester City, karena mematahkan hidung rekan setim-nya, Callum Davidson, hanya karena adu argumen. Parah.

Lalu yang ter-fenomenal adalah Vinnie Jones. Dicap sebagai biang rusuh paling brengsek di liga Inggris, karena keerorannya yang sering menimbulkan bencana bagi klub yang dia bela. Terutama Wimbledon. Beruntung dia putar haluan ke industri perfilman, jika tidak, akan semakin banyak korban yang dia tendang dan cekik di dalam English Premier League. Beruntung aksi tekelnya terhadap Eric Cantona tidak berujung pada perkelahian. Jika kejadian, sudah pasti itu akan menjadi ajang tempur paling epik di sepanjang hikayat liga Inggris. Sepanjang tahun 92-93 karirnya di Wimbledon, dia melakukan 40 kali tindakan indisipliner, sebagian besar di antaranya adalah berkelahi.

Ke-4 nya adalah yang paling bocor dan brutal di Premier League.