Tuak Buatan Rumahan di Bali, NTB, dan NTT Akan Dilegalkan Oleh Bea Cukai

Indonesia adalah negara yang luas, lengkap dengan kekayaan tradisional yang mempesona, termasuk minuman beralkohol-nya. Terlepas dengan kontroversinya, berbagai jenis minuman tersebut memiliki tradisi panjang dan terkenal dengan tingkat memabukan yang tinggi. Popularitas minuman beralkohol tradisional juga tidak bisa dianggap remeh. Mungkin hal itu menjadi salah satu alasan mengapa Bea Cukai akan melegalkan tuak buatan rumahan di Bali, NTB, dan NTT.

Direktorat Jenderal Bea Cukai (DJBC) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) berupaya untuk melegalkan seluruh komoditas minuman yang mengandung etil alkohol (MMEA) di wilayah Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT) yang ramai dikunjungi wisatawan mancanegara.

Menurut Kepala Kantor Wilayah Bea Cukai Bali, NTB, dan NTT R Syarif Hidayat, ketiga kawasan tersebut memang terkenal banyak memproduksi minuman keras tradisional yang biasa disebut tuak. Syarif menjelaskan, pihaknya ingin merangkul seluruh produsen tuak tradisional agar bisa terdaftar sebagai produk legal, sesuai Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2007 tentang Perubahan Atas UU Nomor 11 Tahun 1995 tentang Cukai.

“Mereka kan membuat tuak, kemudian memasukan ke dalam botol, botolnya pun kadang-kadang berbentuk botol minuman mineral yang bekas dijual dipasaran. Mereka jual murah-murah. Tapi lama-lama kok mulai banyak. Begitu dijual banyak, sudah dijual eceran, maka itu sudah terkena ketentuan,” ungkap Syarif.

“Hampir tiap daerah ada, dan itu cukup banyak, karena mereka bikin rumahan-rumahan terus dijual di warung-warung. Tapi begitu kita lihat, produksinya yang rumahan ini belum bisa dijaring untuk masuk menjadi produk yang legal,” tambahnya.

Tuak sendiri biasanya dibuat dari fermentasi beras (biasanya beras ketan) menggunakan ragi dan enzim yang secara alami terkandung dalam ragi. Enzim memecah pati dalam beras menjadi gula dan ragi merubah gula menjadi alkohol, yang merupakan proses fermentasi. Proses fermentasi juga menghasilkan karbon dioksida, terlepas dari alkohol.

Selain dari beras, tuak juga bisa terbuat dari nira. Tuak nira biasanya dihasilkan dari menyadap nira dari mayang (tongkol bunga) pohon enau atau nipah. Mayang enau atau nipah akan dibiarkan akan menjadi buah, dipotong dan air manis yang menitik dari tandan yang dipotong itu akan dikumpulkan dalam wadah, biasanya buluh bambu.

Air nira yang terkumpul dan belum mengalami fermentasi tidak mempunya kandungan alkohol dan biasa dijual sebagai minuman jajanan legen. Bila dibiarkan, kandungan gula di dalamnya akan menjadi alkohol melalui proses fermentasi selama beberapa hari dengan kandungan alkohol sekitar 4%. Tuak enau atau nipah ini dapat diminum selepas beberapa hari.

Biasanya, tuak juga dibuat dalam volume besar dengan bantuan gula dicampur air, lalu direbus dan dibiarkan dingin sebelum ditambahkan ke campuran fermentasi beras dan ragi.