Ketika Manusia Kembali Menjadi Oncom

Akhirnya badai pandemi ini membuat mereka yang sebelumnya kerap mendongakan kepala karena merasa di atas angin, menjadi agak sedikit terpekur sadar, bahwasanya realita terbaru kehidupan hari ini telah berubah. Di mana yang terjadi selama beberapa bulan belakangan ini sanggup menyontakan isi kepala, kalau kita semua ini sebenar-benarnya adalah sederajat.

Ini telah menjadi primadona perbincangan di mana-mana, jika selebritas maupun semi selebritas menganggap pergaulan, ilmu, koleksi, pun ‘kebendaan’ yang mereka miliki jauh di atas standar orang-orang biasa. Manusia-manusia ini menganggap dirinya ada di kelas yang berbeda dari kebanyakan. Padahal sejak dunia ditebas gelombang Covid, kita semua ditakdirkan kembali menjadi Oncom.

Sebuah ‘hadiah’ yang patut disyukuri bersama, jika ‘keoncoman’ yang merebak di segala sudut profesi, menjadi awal yang baik bagi penduduk bumi untuk memulai segalanya dari nol lagi. Anda musisi, seniman, politikus, pemain film, pelawak, sosialita, hipster, poser, olahragawan, hingga pansos, sepakat, kan, kalau badai ini seperti mengingatkan kita kembali, akan pentingnya ‘bersama-sama’.

Ya, bersama-sama adalah langkah yang sebaiknya kita terapkan dengan hati yang lapang, agar bumi kembali cantik seperti 30 tahun yang lalu. Tidak perlu muluk-muluk, asal interior dunia bisa manis kembali seperti tahun 1990, itu sudah menjadi sebuah bingkisan yang sangat istimewa untuk kita semua.

Teruntuk para selebritas serta pemuka pergaulan dan juga petinggi agama yang selalu merasa ‘penting sepenting-pentingnya’, manfaatkan waktu ini untuk kembali duduk santai sekaligus merunduk. Bahaya, profesi Anda tidaklah sejati, regenerasi akan selalu terjadi, dan sudah pasti sesal di kemudian hari akan menjadi ganjaran yang kami garansi akan terus-menerus Anda sesali.

Ini kita telah tiba di fase ketika semua kembali menjadi Oncom. Jadikan keoncoman ini sebagai awal dari Oncom-Oncom yang enak, adaptif terhadap makanan pendamping apapun, dan harus dipastikan dapat berguna untuk jangka waktu yang panjang terhadap yang memakannya.

Foto: Dinas Perdagangan Majalengka