Mengenang Kisah Remaja Belanja Baju Lebaran di Kawasan Tebet

Memutar kembali ke 10 tahun ke belakang kala umur masih cukup belia dan seragam harian masih berbalut warna Putih – Abu-abu, masa SMA, sewaktu remaja. Hari-hari di mana gengsi masih di ujung benak dan brand yang dikenakan masih jadi supremasi. Jelang hari Raya Idul Fitri semua kalut, muda-mudi berbondong-bondong memenuhi kawasan Tebet, Jakarta Timur untuk berburu diskon ataupun katalog terkini dari distro-distro papan atas ibu kota.

Budaya membeli pakaian baru kala mendekati Hari Raya memang telah jadi tradisi masyarakat perkotaaan, terutama Jakarta yang terus menerus disuplai berbagai tren busana. H-5, semua kalap menghabiskan ratusan ribu rupiah hasil menabung sekaligus pemberian orang tua demi beberapa potong pakaian, untuk gengsi dan tampilan necis di Hari Lebaran. Pakaian baru jadi katalis semarak bahagia dan penunjang tampilan foto sempurna.

Kembali lagi, kawasan Tebet memang terkenal dengan jajaran distro-distronya. Pusat pergaulan yang padat diserbu kawula muda pada tiap akhir pekannya, terutama mendekati Hari Raya. Berbagai brand terkemuka yang sedang jadi primadona remaja medio 2008-2013 yang membuka store-nya di kitaran sana. Mulai dari Bloop, Endorse, Crooz, Oval Research, Mischief, NOIN, hingga jajaran pedagang emperan kaos bootleg di sepanjang trotoar Jalan Tebet Utara Dalam hingga selaras Jalan Tebet Raya.

Entah masih adakah fenomena ini di sana. Namun jika mengingat pada era itu, tak habis pikir mengapa saya rela menjajak antrian masuk toko yang mengular bermeter ke belakang. Antusiasme buta yang membuat tercengir jika diingat hari ini. Padahal belum tentu juga ada pakaian yang sesuai selera di dalam store ramai itu. Tapi sudahlah, biarkan Tebet menyimpan cerita konyol remaja yang sedang gencar-gencarnya mengeksplorasi gaya busana dan dibutakan gengsi efek tradisi sesat kepemilikan baju baru di Hari Raya.