Mengapa Kelas Poligami Masih Terus Lestari di Indonesia?

Beberapa minggu lalu jagad dunia maya sempat dihebohkan dengan kemunculan poster kursus poligami. Dalam poster berwarna hitam itu mempromosikan acara yang disebut kelas, di mana akan ada beberapa praktisi yang ahli dalan berpoligami. Dengan mengusung judul “Cara Kilat Dapat Istri Empat”, kelas poligami itu juga membanderol tarif yang tak murah. Pertanyaannya, mengapa kelas poligami masih tetap lestari di tanah air? 

Menjelang fase new normal kemarin, warganet sempat diramaikan dengan sebuah poster kelas poligami. Poster dengan judul “Cara Kilat Dapat Istri Empat” itu membawa pesan rekomendasi dari mereka yang siap beramal dengan poligami. Tertulis dengan jelas di poster itu sebuah pesan motivasi yang berbunyi “Mulai semuanya dengan ilmu, teori, dan praktik.”

Tak hanya itu, acara kelas yang berlangsung di Bekasi itu juga dipandu oleh praktisi yang telah memiliki pengalaman berpoligami. Tercantum dalam poster, empat orang praktisi disebutkan memiliki istri sebanyak tiga hingga empat orang. Mereka adalah KH. Hafidin S.Ag, Ustaz Andi Artin Lc.MA, Vicky Abu Syamil serta coach Akbar Gatang.

Untuk mengikuti kelas poligami tersebut para peserta diharuskan membayar biaya kelas yang tergolong mahal. Peserta pria dikenakan biaya Rp 3,5 juta dan wanita sejumlah Rp 1,5 juta. Kelas poligami ini juga terbatas untuk 20 peserta. Dengan biaya semahal itu, para peserta akan mendapatkan materi dan kesempatan konsultasi oleh para praktisi. Selain itu mereka akan mendapatkan pendampingan sampai menikah, dengan syarat alumni harus mengikuti program khusus.

Poligami Memang Diperbolehkan

Kelas poligami yang dijelaskan di atas sebenarnya adalah salah satu dari banyak kelas yang ditawarkan kepada masyarakat. Di Indonesia sendiri sudah ada perkumpulan bernama Forum Poligami Indonesia. Forum ini aktif mengadakan bimbingan dan pelatihan poligami di berbagai kota. Meski poligami masih menjadi isu kontroversial di tanah air, nyatanya sebagian orang masih berminat untuk mempraktikan hal tersebut.

Kalangan Pria Muslim Konservatif dianggap sebagai target potensial bagi gerakan poligami di tanah air, dan sepertinya Forum Poligami Indonesia menyadari hal ini. Dengan tajuk yang sama seperti diatas, perkumpulan tersebut sempat mengadakan kelas poligami serupa pada tahun 2019 silam.

Fenomena poligami telah menjadi perdebatan yang tak berkesudahan. Meski begitu, praktik poligami mengalami peningkatan tahun lalu. Seperti dilansir dari liputan6.com, Pengadilan Agama Kota Semarang menyatakan bahwa pada tahun 2019 lalu permohonan izin poligami mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya.

Atau viralnya seorang isteri yang mengantarkan suaminya untuk menikah lagi pada Februari lalu, pada video Tik Tok yang merekam adegan seorang perempuan bercadar mengantar suami sahnya menikah lagi dan memeluk istri kedua suaminya. Kedua fenomena ini mungkin menunjukkan bahwa praktik poligami masih dimina di tanah air.

Secara hukum, sebenarnya praktik poligami memang diperbolehkan negara melalui Undang-Undang Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974. Namun disebutkan dalam peraturan tersebut, praktik poligami hanya diperbolehkan dengan syarat yang ketat.

Salah satu syarat poligami disebutkan dalam pasal 4 ayat 2 UU Perkawinan. Tertulis dengan jelas bahwa pengadilan akan mengizinkan seorang suami untuk beristeri lebih dari satu apabila,

-Isteri tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai isteri;

-Isteri mendapat cacat badan atau penyakit yang tidak dapat disembuhkan

-Isteri tidak dapat melahirkan keturunan.

Selain syarat di atas, pihak suami juga dituntut untuk memiliki persetujuan dari isteri pertama untuk berpoligami. Serta memastikan bahwa suami mampu menjamin kehidupan para isteri dan anak-anaknya. Dan syarat lainnya adalah suami juga dituntut untuk berperilaku adil.

Merugikan Kaum Perempuan

Syarat yang disebutkan terakhir sering menjadi permasalahan di kehidupan rumah tangga mereka yang berpoligami. Isteri dan anak kerap menjadi korban dalam praktik poligami yang dijalankan tidak baik. Poligami sendiri menimbulkan dampak yang begitu keras untuk isteri pertama, setidaknya berdasarkan data yang pernah dirilis LBH-APIK Jakarta beberapa tahun lalu.

Disebutkan dalam data tersebut beberapa permasalahan yang dialami isteri pertama setelah poligami antara lain tidak diberi nafkah, tekanan psikis, penganiayaan fisik, diceraikan oleh suami, pisah ranjang, hingga mendapatkan teror dari isteri kedua. Tak ayal poligami dianggap sebagai bentuk kekerasan pada kaum perempuan.

Seperti yang tercantum dalam buku berjudul “Women, Islam, and Everyday Life: Renegotiating Polygamy in Indonesia” yang ditulis Nina Nurmila pada tahun 2009. Dalam buku tersebut terdapat beberapa pengalaman perempuan yang dipoligami. Beberapa dari mereka yang menceritakan kisahnya berujar bahwa poligami memberi dampak yang buruk dari segi fisik, psikis, dan ekonomi.

Permasalahan ini membuat poligami terus menjadi perdebatan berbagai pihak. Berbagai dampak buruk yang mendominasi praktik poligami membuatnya ditentang terutama dari aktivis dan pemerhati isu perempuan.