Hidupmu Adalah Apa Yang Kamu Baca

Sejatinya majalah adalah bagian dari kehidupan yang tingkat kepentingannya cukup esensial. Pengaruh kultur membaca tulisan di atas kertas pada masa itu masih terasa hingga hari ini. Adanya kemajuan teknologi ternyata tak begitu berpengaruh terhadap para loyalis majalah pun buku yang masih menjalankan kebiasaan membaca lembaran kertas hingga sekarang.

Meski sudah sering diinfokan bahwa jumlah Baby Boomers dan Gen X di dunia kian ke sini semakin berkurang, namun sesungguhnya dengan jumlah populasi yang mulai menyusut tersebut, konsistensi para penggemar aktual manual ini patut diacungi jempol. Ketahanan mereka saat bergumul dengan bacaan layak ditiru, karena hal ini berpengaruh terhadap setiap pernyataan yang keluar dari mulut mereka, juga tindak tanduk sehari-harinya. Jadi ilustrasi sederhananya; hidupmu adalah apa yang kamu baca.

Selain majalah, koran juga memberikan kontribusi yang luar biasa dalam menyusupi pikiran-pikiran manusia. Bagaimana ia menggunakan logika, rasio, sehingga bisa berguna bagi tata cara mereka berkehidupan, pun dalam menentukan segala tindak positif, yang dapat membuatnya menjadi makhluk lebih berguna. Tentu saja di sini ada peran para penulis atau apapun kau memanggilnya, dari masing-masing koran harian serta majalah, yang tulisannya begitu berpengaruh terhadap logika berpikir pembaca mereka.

Buku pun menyajikan peran penting untuk kehidupan manusia yang lebih baik. Dari apa yang orang baca dan serap melalui buku, itu semua bermetamorfosis menjadi ilmu-ilmu baru yang akhirnya menjadi bentuk pemikiran baru.

Apa yang tertuang di dalam majalah, koran, serta buku, seharusnya sudah dapat dipertanggungjawabkan. Karena sebelum dicetak ada beberapa tahapan ketat yang harus terlalui. Urutan biasanya adalah dari penulis, ke pemimpin redaksi, lalu diselesaikan oleh penanggung jawab bahasa. Bisa juga tahapannya dibalik, dari penulis, ke penanggung jawab bahasa, dan diselesaikan oleh pemimpin redaksi. Itu berlaku untuk majalah dan harian. Sementara untuk buku, biasanya cukup dari penulis yang akan tektokan dengan editor bahasa. Nanti si editor yang akan menyampaikan ide lugasnya untuk dituangkan ke formula disain yang menarik oleh si perancang grafis.

Balik lagi ke masalah pengaruh dari bacaan, satu hal pasti yang tak mungkin terelakan adalah kamu sekarang adalah apa yang pernah kamu baca. Tindak tanduk, konsep berpikir, lalu logika bersemesta, semuanya tersebut begitu erat kaitannya dengan apa yang terserap oleh otakmu.