Secuil Tentang Bir Tradisional yang Tidak Mengandung Alkohol

Sudah terpatri dalam benak banyak orang bahwa bir adalah jenis minuman yang mengandung alkohol dan berasal dari hasil fermentasi. Tapi ada pengecualian ketika pembuat minuman lokal menamakan hasil minuman mereka dengan kata “bir” di depannya namun tanpa mengandung alkohol di dalamnya. Bir Pletok, Bir Kotjok, dan Bir Jawa adalah nama dari tiga minuman yang sudah eksis sejak lama di Indonesia. Bir tradisional yang tidak mengandung alkohol.

Bir Pletok

Bir Pletok diketahui berasal dari Betawi. Merupakan sebuah minuman tradisional Indonesia yang umumnya berbahan dasar jahe, kayu secang, kayu manis, cengkeh, pala, sereh, kapulaga dan gula jawa. Lalu kenapa disebut bir? Ada alasan dibalik hal itu.

Konon, pada zaman penjajahan Belanda, masyarakat Betawi melihat orang-orang Belanda gemar mengonsumsi minuman dingin yang memiliki busa di atasnya dan berfungsi menghangatkan tubuh. Masyarakat Betawi pun akhirnya mengetahui jika minuman itu bernama bir. Lalu dengan keinginan yang tinggi, masyarakat Betawi saat itu mencoba membuat versi sendiri.

Bermodal bahan-bahan yang mudah didapatkan seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, minuman yang dibikin itu ditambahkan es batu kemudian dimasukan ke dalam bambu, ditutup, dikocok, setelah itu dituangkan ke sebuah gelas bir. Nama “pletok” sendiri berasal dari suara benturan es batu yang dikocok dalam bambu.

Bir Kotjok

Minuman ini adalah salah satu minuman tradisional khas Bogor yang bisa dijumpai ketika bertandang ke kota hujan tersebut. Sama seperti bir Pletok, minuman ini adalah minuman non-alkohol walaupun menyandang nama bir.

Menurut salah satu pewaris dari resep tradisional bir kotjok, minuman ini hadir pertama kali di tahun 1984 di kawasan pecinan Bogor, di mana kakek sang pewaris menemukan racikan minuman untuk acara – acara perayaan pernikahan. Oleh sebab itu, bir Kotjok juga sempat dikenal dengan nama bir pengantin.

Pada tahun 1965, ada seorang penjual bir Kotjok keliling yang akrab disapa si Abah. Dia berjualan di sekitar kawasan Suryakencana hingga Pasar Bogor. Jualan si Abah ternyata memiliki banyak peminat, sehingga nama minuman non-alkohol dan menyehatkan tersebut akhirnya fasih disebut bir Kotjok. Tak hanya laris saat perayaan warga Tionghoa saja, namun hingga saat ini minuman tersebut digunakan untuk acara perpisahan, rapat pemerintah hingga acara – acara lainnya.

Bahan dasar bir Kotjok sendiri terdiri dari jahe merah, kayu manis, cengkeh, gula pasir dan aren. Patut diingat, minuman ini tidak membutuhkan pengawet karena kandungan cengkeh di dalamnya dapat berfungsi juga sebagai pengawet alami yang bertahan dua hari.

Bir Jawa

Bir Jawa muncul pertama kali pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono VII dan Hamengku Buwono VIII. Menurut sejarahnya, minuman ini dikreasikan sendiri oleh Sri Sultan karena melihat tentara Belanda sering mengonsumsi minuman beralkohol. Sri Sultan ingin memiliki minuman sendiri tanpa mengandung alkohol dan bisa dinikmati oleh umat muslim yang ada di keraton saat itu.

Dengan kejelasan tidak menggunakan bahan yang mengandung alkohol untuk pembuatannya, Bir Jawa memakai bahan-bahan seperti kulit kayu secang, serai, cengkeh, kayu manis, jahe yang sudah dibakar, mrica, cabe, kapulaga, jeruk nipis dan air.

Namun, mengikuti perkembangan zaman di mana estetika juga menjadi daya tarik tersendiri, Bir jawa biasanya akan dipadukan dengan es batu lalu dikocok menggunakan alat pengocok, shaker.