Ruangrupa: Poros Komunitas Kegiatan Seni Kontemporer Yang Influensial

Menilik perkembangannya sedari pertengahan 2000, ruangrupa terus bergerak dinamis menjadi sebuah komunitas yang bermanfaat serta tepat guna bagi mereka yang membutuhkan wadah untuk mencurahkan kreasi seninya secara bebas dan bertanggung jawab.

Didirikan untuk menampung segala bentuk kreativitas seni muda mudi bangsa, ruangrupa yang awalnya berada di kawasan Tebet, kemudian pindah ke Gudang Sarinah daerah Pancoran, dan sekarang bermukim di Jalan Durian Raya No 30, Jagakarsa Jakarta Selatan, kini berstatus sebagai salah satu poros komunitas pengendali kesenian kontemporer yang karya-karyanya telah tersebar pun terdengar ke segala penjuru kancah seni internasional.

Ruangrupa aktif menjadi pemicu kemajuan gagasan seni rupa dalam konteks urban dan lingkup luas kebudayaan, baik melalui pameran, festival, laboratorium seni rupa, lokakarya, penelitian, penerbitan buku, majalah, dan jurnal daring.

Seiring perkembangannya yang akan menginjak usia 2 dekade, ruangrupa berevolusi menjadi sebuah kolektif seni kontemporer serta ekosistem studi bersama organisasi lain yang menyajikan ruang belajar bagi publik dengan mengusung nilai-nilai kesetaraan, berbagi, solidaritas, pertemanan, pun kebersamaan.

Ade Darmawan, Hafiz, Ronny Agustinus, Oky Arfie Hutabarat, Lilia Nursita, dan Rithmi menjadi embrio dari pendirian ruangrupa di Jakarta pada awal 2000-an. Mereka merasa ada kebutuhan besar atas “ruang” (secara fisik dan mental) di Jakarta, di mana seniman serta seniwati dapat bekerja secara intensif, serta bisa mengarahkan perhatian mereka lebih ke arah analisis daripada produksi.

Ruangrupa menciptakan ruang untuk menyampaikan ide-ide seni rupa, di mana yang terpenting adalah dalam hal menganalisa, menengahi, lalu melengkapinya, seperti seni publik, seni pertunjukan, dan seni video. Para pendiri merasa ini satu-satunya cara agar seni rupa dapat memiliki kepekaan kritis, untuk menempatkan suatu posisi paling penting bagi seni dalam masyarakat masa kini.

Terbaru, meski tidak gres-gres amat, ruangrupa menyajikan sebuah ruang belajar publik bernama Gudskul bersama Serrum dan Grafis Huru Hara di tahun 2018. Mereka menyebut Gudskul ini sebagai ‘Contemporary Art Collective and Ecosystem Studies’ yang dirancang sebagai tempat belajar simulasi kerja kolektif, yang fokus terhadap pentingnya dialog kritis serta eksperimental, melalui proses berbagi yang berbasis pengalaman. Untuk info lebih lengkap, Anda bisa langsung cari tahu di sini.

Foto: IHateGreenJello.com