Candra Darusman: Antara Pop dan Jazz

Candra Nazarudin Darusman dilahirkan di Bogor, 21 Agustus 1957, dari pasangan Suryono Darusman dan Alida Husnia. Candra sedari kecil terbiasa berpindah-pindah dari satu negara, ke negara lainnya, mengikuti sang ayah, yang bekerja sebagai diplomat. Meksiko, Uni Sovyet, Swiss, merupakan negara yang pernah ia singgahi. Ia memiliki 3 orang kakak, Marzuki Darusman, yang juga merupakan mantan jaksa agung, Taufik Darusman, seorang budayawan sekaligus wartawan, Sofina Pinke Darusman, dan seorang adik bernama Gadis Darusman.

Candra kecil dibiasakan mendengar lagu latin dan jazz oleh sang ayah. Ia juga menekuni gitar, sebagai alat musik pertama yang dia kuasai. Kemudian ketika memasuki Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Pertama, Candra mengambil kursus piano klasik. Setelah itu ia menyelesaikan masa SMA nya di Meksiko.

Sekembalinya ke Indonesia, para leluhur musik Jazz Indonesia ia sambangi untuk dia ambil ilmunya, sebut saja Jack Lesmana, Mus Mualim, Nick Mamahit, Idris Sardi, Bubi Chen, dan Isbandi. Kemudian ketika ia menjadi mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Candra memelopori sebuah festival jazz, yang di kemudian hari kita kenal dengan nama “Jazz Goes To Campus” disingkat menjadi JGTC. Usia festival ini dengan North Sea Jazz Amsterdam, yang merupakan festival jazz tertua di dunia, hanya terpaut 2 tahun. Sehingga JGTC diklaim sebagai festival jazz tertua sekaligus yang pertama kali diadakan di Indonesia. Candra membuat festival ini dengan motivasi “Bringing Jazz to Campus”.

Dengan teman-teman kampusnya, Candra membentuk sebuah band, bernama Chaseiro, yang diambil dari nama depan para personilnya, yaitu: Candra Darusman (vokal, keyboard), Helmi Indrakesuma (vokal), Aswin Sastrowardoyo (vokal, gitar), Edwin Hudioro (flute), Irwan B Indrakesuma (vokal), Rizali Indrakesuma (vokal, bass), dan Omen Norman Sonisontani (vokal). Group ini mulai dikenal dari kompetisi vokal group Amigos tahun 1978. Omen dan Rizali juga merupakan personil dari kelompok musik dangdut humor legendaris, sekaligus pelopor jenis musik seperti ini di Indonesia, ‘Orkes Moral Pancaran Sinar Petromaks’ disingkat OM PSP. Dan, Aswin Sastrowardoyo, merupakan om dari aktris papan atas Indonesia masa kini, Dian Sastrowardoyo.

Candra dan Chaseiro di masa 70-an dan 80-an sempat menelurkan 4 album, yaitu: Pemuda, Bila, Vol 3, dan Persembahan, dengan hits di antaranya: “Pemuda”, “Ku Lama Menanti”, “Kemanusiaan” (di lagu ini penulis liriknya Taufik Darusman, kakak kandung Candra), “Rio De Janeiro” (lagu ini diciptakan oleh Guruh Sukarnoputra), “Dunia Di Batas Senja” (sempat dibawakan ulang oleh Candra, dimana ia berduet dengan Fariz RM),  “Ceria”, “Pesan”, dan “Shy”.

Tahun 1981, Candra Darusman merilis album solo pertamanya bertajuk “Indahnya Sepi”, dengan cover album yang menampilkan wajahnya. Album ini menjadi lambang supremasi genre smooth jazz dan pop yang diusung Candra. Para kolektor kaset di seluruh Indonesia, menempatkan album ini sebagai “a must have item” yang harus berada di deretan atas koleksi mereka. Kekuatan lagu, lirik, kejeniusan aransemen, dan juga kharisma Candra yang tercermin dari cover album-nya tersebut, menjadikan Candra sebagai idola baru remaja Indonesia di era 80-an. Lagu “Kau” mendapatkan heavy rotation dari radio-radio di seluruh Indonesia pada saat itu. Demam lagu-lagu Candra dari album ini, tersebar ke seluruh penjuru negeri. Candra menyajikan lirik yang tidak lugas, penuh kiasan, dan jika ditela’ah secara mendalam, kita akan selalu menemukan intepretasi baru dalam lirik-liriknya tersebut. Dari album inilah, Candra kemudian dikenal sebagai pionir pencipta lirik yang puitis, yang kemudian diikuti oleh generasi songwriter pecinta lirik seperti ini, di kemudian hari.

Duet Candra dengan Linda Marlina di lagu “Indahnya Sepi”, semakin mengukuhkan posisi Candra sebagai musisi sekaligus pencipta lagu papan atas Indonesia. Nuansa pop, yang sedikit dibalut jazz, nampak terasa sekali dalam lagu bertempo upbeat tersebut. Penyanyi Shelomita sempat membawakan ulang karya legendaris ini di awal tahun 2000-an, di mana Candra muncul sesaat dalam video klip-nya. Di sini Candra mampu memainkan perannya, sebagai musisi Jazz yang juga pintar menciptakan lagu pop.

Memilih Jalur Jazz Fusion
Di tahun 1985, Candra Darusman (keyboard) bersama Erwin Gutawa (bas), Denny TR (gitar), Aminoto Kosin (keyboard), dan Uce Haryono (drum) sepakat membentuk band beraliran jazz fusion, dengan nama Karimata. Sebuah grup jazz legendaris, yang musiknya begitu berpengaruh terhadap banyak musisi jazz generasi selanjutnya. Melalui kerjasama para personilnya yang apik, Karimata berhasil melahirkan karya-karya instrumental sentimentil, yang dituangkan dalam album Pasti (1985), Lima (1987), Biting (1989), Karimata – Dave Valentin (1990), dan Jezz (1991).

Karimata sempat menjadi band pengiring acara favorit kawula muda pada akhir 80-an dan awal 90-an di stasiun TVRI, yaitu Gita Remaja. Kemunculan mereka di acara musik yang dipandu oleh Tantowi Yahya itu, menjadi salah satu magnet program tersebut. Seringkali Tantowi di awal acara, ketika memperkenalkan Karimata, dia membukanya dengan kalimat “Karimata band, pimpinan Candra Darusman.” Lalu ketika kamera TV menyorot band tersebut, nampak Candra yang menjadi konduktor, sedang memimpin rekan-rekan nya. Lagu mereka yang menjadi hit di acara ini adalah ‘Jangan Salah’, yang dinyanyikan oleh grup vokal Trio Belel. Di kemudian hari, posisi band pengiring ini digantikan oleh band jazz generasi setelah mereka, Halmahera, yang beranggotakan Tohpati (gitar), Ari Darmawan (drum), Sonny (keyboard), Asep (bas), dan Genky Gutawa (synthesizer).

Karimata banyak menampilkan vokalis tamu di dalam album-albumnya. Karena mereka sendiri tidak pernah memiliki vokalis tetap. Di album Pasti, Candra dan kawan-kawan mengajak Dian Pramana Poetra dan Lidya Noorsaid untuk menyanyikan lagu ‘Rintangan’, January Christy dan Ricki Basuki yang bernyanyi untuk lagu ‘Yang Terjadi’, lalu ada saxophonist legendaris Embong Rahardjo, di nomer instrumental ‘Rainy Days And You’, dan juga kontribusi penyanyi terkemuka saat itu, yaitu Harvey Malaiholo, di lagu ‘Kisah Kehidupan’, serta kelompok vokal LA Storia dalam lagu ‘By Your Side’.

Album mereka yang bertajuk Lima, merupakan album yang paling banyak menelurkan hits. Sederet penyanyi papan atas Indonesia turut berkontribusi di album kedua Karimata ini. Ada Dian Pramana Poetra, Lidya Noorsaid dan kelompok vokal LA Storia yang kembali hadir berkolaborasi dengan Karimata, lalu ada legenda musik pop Indonesia, Ruth Sahanaya dan Ramona Purba. Hits dari album ini adalah ‘Masa Kecil’ yang menampilkan suara emas Ruth Sahanaya, lagu ‘Lintas Melawai’ yang menghadirkan karakter vokal brilian Ramona Purba dan LA Storia, dan ‘Rintangan’ yang memunculkan kolaborasi jenius Dian Pramana Poetra serta Lidya Noorsaid.

Background musikalitas masing-masing personil Karimata yang terbilang di atas rata-rata itu, bisa dibilang tidak main-main. Selain Candra Darusman sendiri yang menjadi leader di group jazz/pop/bossanova Chaseiro, Aminoto Kosin pernah menempuh sekolah music di Berkley Music Of College Boston, kemudian Denny TR pernah memperkuat band Hydro, lalu Erwin Gutawa dan Uce Haryono, yang pernah bersama-sama menjadi member band jazz fusion bernama Transs.

Setelah bekerjasama dengan Pro Sound untuk tiga album, Karimata kemudian mengikat kontrak dengan Aquarius untuk dua album selanjutnya. Di album keempat, yang diberi tajuk Karimata-Dave Valentin, rilisan tahun 1990, Karimata mengajak Dave Valentin, untuk mengisi departemen flute di album tersebut. Dave sendiri merupakan artis dari GRP, yakni sebuah American jazz records company, yang dimiliki Universal Music Group, dan dioperasikan oleh Verve Music Group, dan didirikan oleh komposer, produser, sekaligus musisi legendaris zaman dulu, Dave Grusin dan Larry Rosen.

Di album terakhir mereka, Jezz (1992), lagi-lagi Karimata mengajak geng musikus terkemuka dari GRP, seperti Lee Ritenour, Phil Perry, Don Grusin, Ernie Watts, dan si jenius Bob James, untuk berkolaborasi dengan band jazz fusion kebanggaan Indonesia ini. Di sini Karimata mencoba melakukan eksplorasi, di mana mereka mencoba mencampurkan jazz fusion dengan music etnis khas Indonesia, sehingga terlahirlah karya-karya gemilang seperti ‘Take Off To Padang’, ‘Seng Ken Ken’, ‘Rainy Days And You’ (featuring Phil Perry, di mana dalam album pertama mereka, Pasti, merupakan sebuah nomer instrumentalia, menampilkan saxophonist Embong Rahardjo), dan ‘Paddy Field’.

Karimata sempat membuat konser perpisahan, untuk mengantar kepergian Candra Darusman, yang pergi meninggalkan Indonesia di tahun 2001, untuk bekerja di WIPO. Hingga hari ini mereka tidak pernah menyatakan bubar secara resmi. Sementara itu, banyak fans mereka yang terus berharap, agar mereka kembali reuni, dan membuat karya lagi.

Candra di 2017 lalu menelurkan buku bertajuk “Perjalanan Sebuah Lagu” yang cukup berhasil menyita perhatian para pemuka musik nasional, untuk merenung lagi lebih dalam mengenai pelbagai hak karya cipta para penulis lagu. Seolah ingin membuat hattrick, Opa dari 2 cucu ini melanjutkan kisah manisnya melalui sebuah album yang didedikasikan untuk dia berjudul “Detik Waktu” perjalanan karya cipta Candra Darusman, dengan konten-konten gemilang semisal: Andien, White Shoes and The Couples Company, Mondo Gascaro, Glenn, Danilla, dan beberapa grup serta musisi berkelas masa kini lainnya. Kelas.