Yang Kan Terjalani, Babak Baru Cupumanik

Grup ini sebenarnya didominasi orang-orang Jakarta, sepengetahuan saya jumlahnya ada 4, namun entah mengapa, isu yang selalu dibawa oleh Cupumanik ke publik maupun media mereka ini adalah band yang berasal dari Bandung. Padahal personil yang asli Bandung hanya 1 orang. Apakah karena mereka memulai karir bermusiknya di kota tersebut? Di mana sejak 20 tahun lebih yang lalu Che (vokal), Iyak (bas), dan Eski (gitar) memutuskan untuk sehidup semati dalam komplotan ini. Entahlah, hanya grunge yang tahu jawabannya.

Kini mereka menua berwibawa, dan tetap bertahan dengan kekritisan serta pelbagai senandung mendung romantis dalam menjalankan karya-karya pop rocknya, yang akan terdengar sangat grunge bila Che mulai menggeliat berteriak, dan gitaris Eski unjuk kemahiran memainkan kord-kord miringnya.

Sebuah langgam syahdu yang sudah dibuat beberapa belas tahun lalu, namun gagal masuk ke dalam album pertama Cupumanik, oleh para bapak-bapak ini kembali diurai ke dalam bentuk baru yang terdengar harmonis, tidak ngotot, namun tetap ambisius di dalam menyampaikan berbagai pesan yang tersirat di dalam liriknya.

Aroma penamaan judul lagunya khas Cupumanik banget. Setengah bermetafora, namun sarat rona merajuk. ‘Yang Kan Terjalani’ sepertinya dikendalikan mereka sebagai jembatan menggapai pasar yang lebih luas, baru, dan berwarna. Selama ini Che, Iyak, Eski, dan Donny (drum) dikenal teramat dekat, atau kalau boleh dibilang terlalu asyik dengan komunitasnya sendiri. Mungkin dengan sekembalinya Mpok, gitaris mereka yang menghilang di album kedua ‘Menggugat’, akan menjadi suntikan segar yang selama ini dicari-cari oleh Che dan personil lainnya, untuk lebih adaptif dengan dunia di luar komunitas.

Sehingga, meski terlihat sepele, karena mereka hanya mendaur ulang karya, terdengar keseriusan yang lumayan maksimal dari Cupumanik dalam penggarapan aransemen baru ‘Yang Kan Terjalani’ ini. Seperti ada hasrat yang terlepas bebas dari bahu Che. Di mana para personil lainnya berhasil membantu melepaskan beban itu dari pundak sang vokalis.