Plot Cerkas Dari Primata Demi Perpanjangan Waktu Kehidupan

Manusia hanya hidup dalam kesengsaraan, kala dunia kian tua dan alam hancur lebur diterpa keegoisan. Sementara debu-debu ricuh berterbangan, polutan mengalir lancar melewati silia dan virus mematikan memenuhi rongga paru. Kita akan selalu hidup dalam paparan udara kotor, dan respirator adalah alat wajib penunjang hidup di tahun 2030. Primata ingin menyampaikan itu semua sebelum terlanjur terjadi dan kehidupan ini menjadi terlalu mati.

Indonesia tak banyak memiliki unit skandal instrumental alt rock seperti Primata, yang mampu mengentaskan kewajibannya sebagai kumpulan pengagung notasi-notasi bernas, untuk berbicara banyak melalui tembang-tembang tanpa vokal. Video musik terbaru mereka adalah bukti kongkrit, bahwasanya kenyataan harus disampaikan melalui pelbagai cara, agar kepedulian mereka dapat tersampaikan. Kali ini mereka mengusung perihal bumi yang semakin uzur.

Siang di Ibu kota adalah neraka bagi lungs trakea yang harus bekerja dua kali lebih keras saat Air Quality Index menunjukan angka polusi di kisaran 150-170. Angka yang mengingatkan manusia agar senantiasa mengetatkan masker di depan dua lubang hidung kala beraktivitas di luar ruang. Ini baru 2020, bagaimana dengan satu dekade ke depan? Hancur sudah impian hidup sehat yang dibangun Yellow Fit dengan program kebugarannya.

Mengambil genre Fiksi-Ilmiah dalam video musiknya bertajuk Sebelum Terlalu Mati, komponen sindikat instrumen ini seperti memberi ilustrasi sederhana mengenai beberapa artikel ilmiah yang berkaitan dengan pencemaran udara yang diprediksi akan melesat 3 kali lipat pada 10 warsa mendatang. Kengerian akan semakin tingginya partikulat dikemas apik lewat cerita yang berlatar waktu di 2030, ketika manusia harus hidup dengan respirator. Tidak lupa problematik sosial ikhwal sulitnya mencari kerja menjadi bumbu manis yang bercerita ngeri suramnya hidup di zaman dekade tersebut.

Video melankoli ini digarap serius oleh segenap kru internal Primata serta kolega. Disutradarai langsung oleh gitaris Rama Wirawan, dibintangi Andrew Mahardika, Dea Peni Larasati, serta Ayuki Senandung Lenggana, yang merupakan buah hati dari pemain bass dan penabuh drum Primata sendiri, Adhitomo Kusumo & Ria Antika.

Mengalur campur menjadikan video klip ini memiliki warna tersendiri dan membutuhkan beberapa kali putar untuk memahaminya alur ceritanya. Dibutuhkan dua kali ulang putar video untuk mendapatkan arti yg dikandung video ini.

Kawanan pemikir ini terbentuk sejak 2014, keseriusannya dalam menceburkan diri ke dalam berbagai isu lingkungan dan sosial dibuktikan secara gagah melalui video musik Sebelum Terlalu Mati ini.

Bicara tentang karya suaranya, Primata eksis dengan merilis satu mini album dan beberapa single. Gawai instrumental rock yang dihasilkan pemuda pemudi tengah baya ini dapat dikategorikan sebagai buah karya kontemporer, yang menggerat komposisi isak gitar, degup bass plus saut dramnya merambat deras. Bahana dari tiap notnya seolah menjadi ode yang memiliki resep anestesi pencuri kesadaran pendengarnya. Magis, tidak seperti kebanyakan pengisi line up festival hari ini.