Terluka di Dalam Negeri, Produk Bir Lokal ini Justru Merajai Pasar Dunia

Banyak merk minuman beralkohol yang beredar di pasar Indonesia. Penyelenggara negara pun meregulasikannya dengan menggolongkan minuman-minuman tersebut berbeda kelas (A, B dan C). Semakin bontot alfabetnya, semakin besar kandungan alkoholnya. Beban pajak tinggi juga disodorkan bagi para importer maupun produsen. Presentase pajak atau tarif impor menyentuh angka 90-150 persen. Hal ini cukup menjadikan minuman keras sebagai barang mahal bagi beberapa kalangan. Dimulai dari bir lokal.

Minuman keras jenis bir (beer) yang notabene paling sedikit kandungan alkoholnya masuk di kelas A. Minuman segar yang cocok dinikmati dalam segala kondisi ini mendapat malapetaka dan terpaan regulasi yang cukup berpengaruh menurunkan angka penjualannya.

Dikutip dari Tirto.id, per April 2015 sesuai Permendag No. 6/2015 tentang Pengendalian dan Pengawasan terhadap Pengadaan, Peredaran, dan Penjualan Minuman Beralkohol, mini market dan pengecer lainnya wajib menarik bir atau produk minuman beralkohol (minol) golongan A.

Cobaan bagi bir tidak berhenti disitu, berselang tiga tahun di 2018, pemerintah menaikan tarif cukai minuman beralkohol golongan A ini hingga 5 persen. Dari Rp13.000 per liter menjadi Rp15.000 per liter mulai 1 Januari 2019. Ketentuan ini berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No. 158/2018 tentang Tarif Cukai Etil Alkohol, Minuman Yang Mengandung Etil Alkohol dan Konsentrat Yang Mengandung Etil Alkohol.

Meski bukan bangsa dengan tradisi meminum bir, hal ini cukup menjadi ironi di tengah tingginya minat masyarakat mengkonsumsi alkohol. Begitu juga dengan industri bir di Indonesia yang nyatanya cukup mendapat sorotan di mata dunia. Beberapa produk bir lokal Indonesia nyatanya cukup populer dan sangat diminati para penikmat bir di luar negeri. Berikut deretan produk bir lokal yang difavoritkan penduduk dunia:

Bintang (Pilsner)

Bintang, merk ini sangat mendominasi pasar lokal maupun dunia. Diproduksi atas kemitraan dengan Heineken di Belanda, sehingga rasanya cenderung mirip. Warnanya kuning keemasan, rasanya mirip tape dengan sedikit manis sedikit pahit, sangat berkabonasi, aromanya lebih soft lembut, dan memiliki kadar alkohol 4.7%.

Anker (Pale Lager)

Bir Anker bekerja sama dengan perusahaan bir San Miguel di Filipina. Bir ini adalah perpaduan antara campuran beras dan biji gandum sehingga rasanya lebih light, warnanya juga kuning emas dan sedikit berkarbonasi, kadar alkoholnya 4.5%. Harga yang lebih murah menjadikan Anker produk laris di pasaran.

Bali Hai (Lager)

Menjadikan pulau seribu pura menjadi bagian dari namanya. Bali Hai adalah bir produksi PT Bali Hai Brewery Indonesia yang sudah berproduksi sejak 1975. Bir Bali Hai sudah di distribusikan ke lebih dari 20 negara di segala penjuru dunia.

Panther Ginseng Stout (Stout)

Masih dari PT Bali Hai Brewery Indonesia yang produk-produknya sangat bervariatif. Ada nama Panter Ginseng Stout, varian Stout (bir hitam) dikenal memiliki rasa yang unik karena merupakan paduan bir dengan ginseng khas cita rasa Indonesia. Bir ini cukup memiliki pasar di luar negeri karena memiliki kandungan ginseng yang terkenal baik untuk tubuh. Terlepas dari regulasi dan tarif cukai tinggi yang ditetapkan pemerintah, beberapa produk-produk bir diatas justru laris manis di pasar bir mancanegara. Karena segala varian rasa dan keunikan-keunikan khas nusantara yang dibawa ke dalam setiap botolnya.