Singles : Soundtrack Masa Muda Bengal Eddie Vedder, Chris Cornell dan Billy Corgan

Ketika harga pakaian dan celana jins masih belum segila hari ini, di mana semua orang yang memakai kaos polos terlihat begitu sempurna, dan kuping-kuping terlena dibuai oleh kenikmatan musik alternatif, Movie Soundtrack persembahan Seattle ini muncul memberi tumpah ruah kesegaran alami.

‘Would’ Alice In Chains memulai perjalanan Singles dengan semangat serak-serak berat yang dianggap sebagai penyelamat notasi musik Amerika di era itu. Layne Staley menjadi juru berkah, di mana cara dia bernyanyi sungguh sangat memikat kawula muda pemuja flanel Levi’s, jeans Marithe Francois Girbaud, dan segala jenis kaos Hanes yang begitu porak poranda di berbagai penjuru dunia.

Kelanjutannya adalah ‘Breath’ Pearl Jam. Lagu ini bak buah yang matang sebelum waktunya. Lebih enak didengarkan pada masa itu ketimbang di masa sekarang. Tembang ini pun merupakan salah satu titik awal pesona rock alternatif, yang baru saja memulai pergerakannya. Ya, di saat Soundtrack ini muncul, movement alternatif baru berjalan beberapa saat.

Kemudian solo ‘Seasons’ Chris Cornell menjadi adidaya string akustik berat penuh nyali, yang akan sukses membakar perasaan para pendengarnya, dan dapat pula dijadikan sebagai bahan bakar cadangan mood booster mereka.

Dyslexic Heart diumbar Frontman The Replacements, Paul Westerberg, dengan yel yel crunch distortif khas Paman Sam yang penuh dengan nuansa keakraban sektoral model Bruce Springsteen. Sementara itu lagu ‘Battle Of Evermore’ dari The Lovemongers menyeruak 70’s sendirian, karena memang roh asli dari karya ini merupakan jimat buatan Jimmy Page dan Robert Plant yang lahir 30 tahun sebelumnya. Nada-nadanya keramat tapi pasti.

Lalu pasukan Soundgarden menyerbu secara monoton namun artsy melalui ‘Birth Ritual’ yang cukup brutal, tetapi tetap menarik untuk terus didengarkan, karena perpaduan usaha vokal Chris Cornell yang menjerit-jerit bak lagi dikejar setan, dengan sayatan bengis gitaris Kim Thayil, menjadi atraksi wisata kuping berbahaya di dalam Soundtrack ini.

‘State Of Love And Trust’ dari Pearl Jam menjadi aksi geber over drive termulus di dalam “Singles”. Eddie Vedder berkobar-kobar sebagai orator cinta paling ulung saat itu. Sementara itu,Paul Westerberg tetap beryel-yel bak koboi Texas yang berusaha jadi pop cult, di dalam nada-nada anggun ‘Waiting For Somebody’. Hingga akhirnya kemesraan Soundtrack “Singles” ini ditutup dengan matang oleh grup yang memberi pencerahan terbaik terhadap segala jenis musik alternatif, yaitu The Smashing Pumpkins, melalui not-not gagah yang tersaji dalam ‘Drown’. Suara lenguhan Billy Corgan menjadi api sekam yang akan selalu menjadi mutiara terbagus dari genre rock alternatif, sementara bebunyian gitar yang dihasilkan oleh James Iha, adalah anugerah tercantik bagi muda-mudi pergaulan era 90-an.