Semesta : Bukti Menjaga Alam Nusantara Bisa Dilakukan Siapa Saja

Suka tidak suka bumi tempat kita berpijak ini sudah menua. Salah satu imbasnya adalah perubahan iklim yang mulai melanda. Perilaku manusia menjadi faktor terbesarnya. Berbagai peringatan sudah disampaikan, namun perubahan belum juga tercapai. Film Semesta hadir untuk menyadarkan kita tentang pentingnya menyelamatkan bumi dari perubahan iklim yang mengancam.

Isu perubahan iklim memang bukan isapan jempol semata. Dampak yang ditimbulkan dengan perubahan ini terasa begitu nyata bagi berbagai mahluk hidup. Alam sebagai sumber penghidupan utama semakin didera nelangsa. Kenaikan permukaan air laut, perubahan suhu dan curah hujan adalah segelintir masalah yang sudah mengancam kehidupan. Film sebagai salah satu media dimanfaatkan untuk memperingatkan isu serius ini, dan film Semesta hadir untuk meneruskan misi ini ke publik.

Film ini merupakan debut dari rumah Produksi Tanakhir Films dalam memproduksi film dokumenter berdurasi panjang. Semesta berhasil menembus nominasi dalam kategori Film Dokumenter Panjang Terbaik di Festival Film Indonesia (FFI) 2018. Prestasi lain yang dicapai oleh film karya Chairun Nissa ini adalah terseleksi untuk diputar di Suncine International Environmental Film Festival yang berlangsung di Barcelona, Spanyol pada 2019 lalu.

Film dokumenter berdurasi 1 jam 28 menit itu bercerita tentang tujuh pegiat lingkungan di tujuh provinsi yang terbentang dari Aceh hingga Papua. Ketujuh sosok ini memiliki misi yang sama untuk menjaga kelestarian alam. Dalam usahanya, mereka menjalankan misinya sesuai dengan agama, kepercayaan dan budaya yang dianut oleh masing-masing.

Tujuh sosok yang diangkat dalam Semesta diantaranya Almina Kacili (Papua), Tjokorda Raka Kerthayasa (Bali), Marselus Hasan (Nusa Tenggara Timur), Muhammad Yusuf (Aceh), Agustinus Pius Inam (Kalimantan Barat), Iskandar Waworuntu (Yogyakarta), dan Soraya Cassandra (Jakarta).

Semesta mengajak para penonton untuk berkeliling ke tujuh provinsi diatas untuk menikmati kekayaan alam yang dimiliki nusantara. Melalui ketujuh sosok inspiratif tadi, mereka bercerita tentang upayanya untuk melindungi alam ditempat mereka tinggal. Dengan solusi yang dimilikinya, mereka telah memberi dampak nyata bagi kelestarian lingkungan. Sekaligus memberi contoh bagi kita untuk ikut dalam mengurangi dampak dari krisis yang dialami oleh bumi.

Film yang diproduseri oleh Nicholas Saputra ini menampilkan berbagai fakta yang cukup mencengangkan terkait dengan perubahan yang terjadi di alam Indonesia. Salah satunya adalah fakta bahwa 50 persen hutan Kalimantan telah hilang selama satu abad terakhir yang diakibatkan oleh deforestasi.

Dikemas secara apik, pesan terkait bahayanya krisis iklim disampaikan secara sederhana oleh film Semesta. Ketujuh tokoh inspiratif tadi mengingatkan kita untuk tak berlebihan dalam memanfaatkan kekayaan alam. Kehadirannya ditengah film-film komersil lain diharapkan dapat membuka mata bagi siapapun untuk tergerak menjaga kelestarian lingkungan.

Film Semesta telah ditayangkan secara terbatas di bioskop mulai 30 Januari 2020. Tanakhir Films sebagai rumah produksi membuka kemungkinan untuk membawa film ini ke kota-kota yang tidak kebagian jatah penayangan. Dengan harapan pesan untuk menyelamatkan bumi dari krisis iklim akan tersebar lebih luas.