Purple Rain: Cult Funk Discotronic Soundtrack Penuh Magis Sentuhan Prince

Purple Rain: Cult Funk Discotronic Soundtrack Penuh Magis Sentuhan Prince

Minggu lalu, sebuah piringan hitam yang telah lama dinantikan tiba di rumah dengan selamat tanpa cacat. Adalah album Purple Rain milik yang maha Prince. Sebuah karya fenomenal nan ajaib, tanpa cela, penuh sentuhan magis, dan bermental juara.

Kegilaan Prince dimulai ketika track “Let’s Go Crazy” menyeruak muncul sebagai pembuka. Komposisinya jauh meninggalkan tren musik di tahun ketika album ini dirilis, yaitu 1984. Kehebatan lain muncul saat “Take Me With You” hadir memberikan kesan kemewahan terhadap album yang diganjar sebagai album soundtrack ketiga dengan penjualan terlaris sepanjang masa tersebut.

Warner Bros, label yang menaungi karya luar biasa ini tentunya mengeruk keuntungan yang gila-gilaan dari prestasi album Purple Rain. Pertama dikeluarkan langsung terjual 1.5 juta kopi. Kemudian setahun setelahnya, di tahun 1985, 25 juta kopi ludes dalam seketika berkat kepopuleran filmnya juga, yang diberi judul sama: ‘Purple Rain’.

Keuntungan nominal yang diraih album ini berkisar di angka 45 juta dolar Amerika. Sementara filmnya sendiri meraup keuntungan sebesar 80 juta dolar Amerika, jauh melebihi modal awal mereka, yang hanya sebesar 7,2 juta dolar Amerika.

Kembali berbicara mengenai albumnya, terdapat 3 track yang direkam secara live, yaitu “I Would Die For You”, “Baby I’m A Star”, dan “Purple Rain”. Hasilnya? Sangat luar biasa! Karena Prince berulang kali menyatakan bahwa ia tidak pernah bisa menampilkan lagu-lagu yang direkam secara langsung tersebut dengan kualitas yang sama.

Pria yang meninggal pada 21 April 2016 ini merasa energi yang didapat saat ia merekam ketiga lagu juara tersebut adalah salah satu keajaiban dunia yang terjadi pada era 80-an. Kekompakan para pendukung musiknya dalam memberi sentuhan aransemen, yaitu Wendy Melvoin (gitar), Lisa Coleman (kibor), Matt Fink (kibor), Brown Mark (bas), Bobby Z (dram), Novi Nolog (violin), David Coleman (cello), Suzie Katayama (cello), Apollonia (vokal), dan Jill Jones (vokal), merupakan maha karya yang fenomenal. Terutama di lagu “Purple Rain”, di mana isian gitar Prince terdengar begitu menyayat hati. Ohya, nama-nama barusan adalah member dari The Revolution’s, sebuah maha grup yang sepanjang karirnya memang identik dengan musik dan sosok Prince.

“Computer Blue” merupakan keunikan yang mengejutkan. Presisi synthesizer serta kibor-nya begitu menghibur telinga. Sementara “Darling Nikki” adalah keceriaan yang matematis. Edit dan cut aransemennya sangatlah presisi. Lalu yang paling juara adalah track “When Doves Cry”. Di mana olah notasi yang dikerjakan oleh Prince dan The Revolution’s adalah revolusi terbesar sekaligus terbaik dalam dunia musik selama 4 dekade terakhir.

Ketika pria serba bisa ini meninggal, di pelbagai kanal streaming terlihat dan terdengar a tribute terhadap sosok yang sering dibandingkan dengan Michael Jackson serta Madonna ini, melalui lagu “When Doves Cry” yang di-cover lagi oleh para pengikut Prince secara habis-habisan. “Purple Rain” merupakan cult funk discotronic album ter-fenomenal selama 40 tahun terakhir, yang akan selalu dikenang para penikmat musik di seluruh dunia.

Vantage Banner Ads