Efek Rumah Kaca: Penghasil Album Kualitas Maksimal

Sulit memang jika harus memilih di antara yang terbaik. Termasuk jika dihadapkan pada pertanyaan apa album terbaik Efek Rumah Kaca?. Trio pop yang terdiri dari Cholil Mahmud (vokal), ‘Poppie’ Airil Nur Abadiansyah (bass) dan Akbar Bagus Sudibyo (drum) ini punya 3 album dan 1 mini album terganas yang sukses merajai industri musik Indonesia. Notasi-notasi berkarakter kuat serta lirik bernas yang responsif merekam gejolak sosial di tiap-tiap karyanya, menjadi alasan band ini untuk layak dinobatkan sebagai salah satu yang terbaik sejauh hikayat musik Indonesia.

Sepanjang perjalananya Efek Rumah Kaca mengusung aliran indie-rock-alternatif, total band yang terbentuk sejak 2001 ini telah menetaskan 3 album penuh dan satu mini album. Album pertamanya bertajuk sama dengan nama band; Efek Rumah Kaca, selanjutnya ada Kamar Gelap, Sinestesia dan yang masih segar dirilis Januari lalu, Jalan Enam Tiga (EP). Tiap-tiap albumnya membawa warna musik berbeda dan kian sukses menggait atensi pasar musik Indonesia di setiap perilisannya.

Debut album Efek Rumah Kaca dimulai sejak 2007 dengan dirilisnya album bernama Efek Rumah Kaca. Kala itu formasi personilnya dihuni Cholil, Akbar, serta Adrian Yunan Faisal pada bass dan vokal latar. Total 12 materi masuk dalam album ini. Album yang penuh berisi dengan kemuakan lugas pada para pemangku kuasa negeri, dinamika sosial, dan permasalahan kesepian hidup. Dibuka dengan tembang berjudul Jalang, dilanjut Jatuh Cinta Biasa Saja, Bukan Lawan Jenis, Belanja Terus Sampai Mati, Insomnia, Debu-Debu Berterbangan, Di Udara, Efek Rumah Kaca, Melankolia, Cinta melulu, Sebelah Mata dan ditutup dengan gita Desember. Album perdana ini cukup berhasil mematik nama Efek Rumah Kaca ke blantika musik. Album Efek Rumah Kaca ini juga diganjar penghargaan Rookie Of The Year dari Rolling Stone Indonesia dan Classic Music Heroes 2009 dari Class Music Heroes. Selain itu, album pertama ini membawa pula nama ERK menjadi nominator pada ajang bergengsi sekelas Anugerah Musik Indonesia dan MTV Musik Award.

Setahun berselang lahirlah album kedua Efek Rumah Kaca bertajuk Kamar Gelap. Masih dengan formasi yang sama pada album pertamanya, yakni Adrian Yunan pada bass, kali ini ERK menggandeng Aksara Record sebagai label distribusi. Dengan formula standar mereka yaitu materi lirik yang merespon gejolak sosial, situasi politik, dan sedikit bumbu percintaan. Namun yang berbeda, Kamar Gelap agaknya terasa lebih pop dan punya irama kinetik dibanding album pendahulunya yang berbunyi gamang dan marah. Berisi 12 nomor; Tubuhmu Membiru… Tragis, Kau dan Aku Menuju Ruang Hampa, Mosi Tidak Percaya, Lagu Kesepian, Hujan Jangan Marah, Kenakalan Remaja di Era Informatika, Menjadi Indonesia, Kamar Gelap, Jangan Bakar Buku, Banyak Asap di Sana, Laki-Laki Pemalu dan Balerina. Album kedua ini sukses memboyong dua nominasi di Indonesia Cutting Edge Music Awards, The Best Album dan Favorite Alternative Song untuk track Kenakalan Remaja di Era Informatika.

Setelah tujuh tahun bersemayaman, pada 2015 terciptalah Sinestesia yang jadi album ketiga Efek Rumah Kaca. Sinestesia punya format berbeda, album yang berisi 7 judul yang diambil dari nama-nama warna ini punya durasi yang panjang tiap lagunya. Hal ini dikarenakan satu judul lagu pada Sinestesia berisi 2-3 track di dalamnya. Judul Merah dengan Ilmu Politik, Lara Di Mana-mana dan Ada Ada Saja, Biru dengan Pasar Bisa Diciptakan dan Cipta Bisa Dipasarkan, Jingga dengan Hilang, Nyala Tak Berperi, Cahaya Ayo Berdansa, Hijau dengan Keracunan Omong Kosong dan Cara Pengolahan Sampah, Putih dengan Tiada dan Ada, serta Kuning dengan Keberagamaan, Keberagaman dan Leleng (Instrumental Suku Dayak Kenyah). Album Sinestesia agaknya kian menunjukan kemampuan musik dan vokal tinggi masing-masing personilnya lewat serangkaian simfoni dan instrumen-instrumen kompleks yang terkandung.

Lima tahun setelahnya, Jalan Enam Tiga diluncurkan Efek Rumah Kaca. Pada album ini Poppie Airil resmi menggantikan posisi Adrian Yunan pada departemen bass yang memilih hengkang pada 2017 lalu. Format mini album dipilih sebagai pengikat 4 track di dalamnya, Tiba-Tiba Batu, Normal Yang Baru, Jalan Enam Tiga dan Palung Mariana. Keempatnya materinya direkam di studio Trout yang terletak kawasan Brooklyn, New York. Keseriusan Efek Rumah Kaca pada mini album ini tidak tanggung-tanggung, menggandeng nama-nama besar seperti Bryce Goggin sebagai penata suara dan Scott Hull untuk urusan mastering. Jauh berbeda dengan Sinestesia, insturmentasi mini album ini terasa lebih ringan.

Akan jadi pertanyan rumit memilih Efek Rumah Kaca, Kamar Gelap, Sinestesia atau Jalan Enam Tiga. Keempatnya punya kadar kesempurnaan tinggi ditiap-tiap materinya. Semua yang dicipta punya rasa dan warnanya masing-masing yang membekas menjadi irama siap putar dalam memori kepala. Bagimana dengan kalian?