Inilah Album Ride Kesukaan Kalian: Nowhere

Tidak ada yang lebih memagiskan telinga dari crunch, delay dan drive tak berujung nan galak dari sihir satuan irama dalam Nowhere yang didentumkan Ride dan tetap menjadi kultus pada ritual shoegazing hingga detik ini, bahkan hingga bumi hancur lebur diterpa pandemi-pandemi berikutnya dan rakus insan bernama manusia.

Sementara jam beker digital menunjukan pukul satu menit tiga puluh tiga. Mata masih kencang melahap pancar radiasi UV layar, namun otak tak lagi dapat berjalan beriringan. Fokus terpecah, telinga masih hafal dan kencang betul ketika Dreams Burn Down memberikan nutrisinya. Sebelumnya ada Seagull di gerbang kenikmatan Nowhere yang membuka manuver orkestrasi dari ganasnya metode bermusik Mark Gardener, Andy Bell, Loz Colbert dan Steve Queralt yang tak sungkan untuk tega memperlakukan instrumen pegangannya ke titik teratas guna membuahkan notasi ajaib.

Tak habis Kaleidoscope memainkan emosi dengan lirik manis namun tragisnya. In a Different Place yang membawa roh sejenak mengawang ke nirwana lalu dikejutkan dengan sapuan riff gahar Polar Bear yang kembali mengingatkan pada cicilan Yamaha Mio yang masih ditenor ke-3nya bulan ini. Tiada henti riff berdistorsi dan feedbacknya konstan menghajar telinga hingga akhir outro.

Hingga tibalah di titik nyaman Dreams Burn Down. Tidak terasa hidangan beratnya cukup menyuntik setengah nutrisi yang dibutuhkan kepala di pukul dua. Namun masih ada tiga dessert tersisa. Decay yang pertama disaji. 15 kata kita mati ada di level tersadis ini, bersanding dengan instrumen super cadas. Menurut saya ini adalah track terhingar dan terkelas yang ada. Paduan notasi gilanya mengaung sepanjang laga.

Lalu sehabis lelah Decay pun diistirahatkan oleh nomor Paralysed, sejenak mengawang kembali dengan tempo pelan. Hingga tiba akhir perjalanan, Vapour Trail, artefak kuno penuh kekuatan magis. Penutup sempurna orkestra Nowhere yang juga jadi tembang terpopuler tiga dekade lebih perjalanan shoegaze dari Ride yang sempat terhenti laju jalannya.