Ode Kelam Nirtujuan, Minus Dopamin Dari Goodnight Electric

Februari dibuka berawan oleh rangkaian curah hujan tidak berkesudahan. Matahari agak malu menampakan diri. Banjir membawa serta sampah serapah yang mengalun deras, sementara angin menerbangkan asbes atap bedeng di ujung gang kumuh. Seraya dengan musibah yang tak kunjung usai dan tujuan hidup terasa agak mandek, -Dopamin (dibaca: minus dopamin) dari Goodnight Electric dirilis sebagai anthem momentum sial awal tahun.

Sebelumnya GE meluncurkan VCR dan Erotica, dua single pembuka yang dilepas selaras diraya secara riang dengan beragam pesta kecil yang digalakan pada beberapa tempat di Jakarta Selatan. Usainya, di pengawal Februari unit synth-pop yang telah mengentaskan albumnya sejak 2004 ini resmi menghadirkan amunisi bertajuk -Dopamin melanjut rangkaian single projek baru untuk kurun semester 2019-2020.

-Dopamin berdendang shoegaze sejauh 4:09 menit. Memiliki sedikit rasa kelam dengan kocokan gitar tempo tinggi pada hulu hingga hilir yang lumayan membawa ingatan pada memoar post-punk. Kesan kelam yang perlahan bias dengan sedikit cahaya terang yang memercik lewat balutan synthesizer meruang dan mengalun loop hingga terasa kebas di kedua telinga. Bisingnya melapisi vokal tipis distingtif Henry Foundation yang tidak berubah banyak sejak Love and Turbo Action 16 tahun silam.

Goodnight Electric nampak tidak ingin terlalu bereksperimen. Porsinya -Dopamin terasa pas secara komposisi, tidak ada gubahan nada asing yang terdengar selain balutan gitar. Alunan yang seakan mendeklarasikan kemampuan tinggi mereka dalam menggubah ritme new-wave dan post-punk. Agaknya kidung ini tidak akan berujung pada sentuhan tombol next pada layar datar smartphone di 15 detik pertama. Selain menikmati nadanya, alternatif janggal yang dapat dilakukan adalah menebak kata ber-rima U pada chorusnya yang selalu patah di luar duga. Lirik yang berisi curahan kelam, representasi kondisi tersungkur dalam carut masalah dan sesat tujuan.

Sebuah terobosan apik dari Goodnight Electric yang mempertegas eksistensi di tengah usia masing-masing personilnya yang rata menginjak kepala empat. Rentetan single yang satu persatu disajikan pun punya rasa berbeda dengan menghidangkan Bahasa Indonesia sebagai khasnya, melawan arus lirik inggris yang menggaung sejauh 3 album Goodnight Electric sebelumnya. Henry, Bondi dan Oom Leo tidak pernah terlihat tua untuk itu semua. Terkhusus untuk -Dopamin, penampilan langsungnya cukup mengundang rasa penasaran. Sampai bertemu, Goodnight Electric!