Midsommar: Garis Tipis Harmoni Pagan dan Pengkultusan

Midsommar: Garis Tipis Harmoni Pagan dan Pengkultusan

Sekelompok pelajar sepakat untuk melakukan tesis ke sebuah pedesaan di daerah Swedia, tepatnya daerah Halsingland, atas ajakan salah satu dari mereka, Pelle (diperankan oleh aktor bohemian, Vilhelm Bolgren) yang merupakan keturunan asli dari tempat tersebut. Perjalanan ini juga dimanfaatkan sebagai kegiatan semi berlibur oleh salah satu dari anggota kelompok ini, yaitu perempuan bernama Dani (diperankan aktris berwajah dingin, Florence Pugh) yang baru saja kehilangan semua anggota keluarganya. Ari Aster, sang sutradara, yang juga merupakan director ‘Hereditary’, ‘The Strange Things About The Johnsons’, dan ‘Munchausen’, memadukan rasa hampa dan berbunga-bunga sebagai intensitas dari Midsommar.

Sesampainya di sana, Dani, Christian (Jack Reynor), Pelle, Josh (William Jackson Harper), Mark (Will Poulter), berjumpa dengan pasangan Connie (Ellora Torchia) dan Simon (Archie Madekwe), yang memang memiliki niat sama dengan kelompok tersebut, yakni mempelajari budaya dari leluhurnya Pelle, sekaligus merayakan kegiatan Festival Midsummer, yang lebih dikenal dengan sebutan Midsommar dalam bahasa asli Swedia, di desa Halsingland.

Pelle, yang ternyata sudah berteman lama dengan Connie dan Simon, menyatukan para pemuda pemudi tanggung ini untuk dikendalikan sekaligus dipimpin oleh dirinya, terutama mengenai peraturan apa saja yang harus mereka lakukan ketika berada di Hasingland, selama kegiatan Midsommar berlangsung.

Sesampainya di sana, Pelle mengubah agenda skala prioritas, lupakan tesis, fokus terhadap Midsommar. Hal ini tentu saja membuat yang lain terkejut, namun mereka mencoba patuh terhadap keputusan Pelle, sehingga kelompok tersebut menyepakati untuk menikmati Midsommar.

Setiba di Halsingland, kepiawaian Ari Aster sebagai plot twist master mulai terlihat. Bagaimana cara dia mengemas ambient pedesaan tersebut dari sisi fotografi yang begitu istimewa, dan show off dia dalam mempertunjukan kecerkasannya sebagai penyusun harmoni horor kelas wahid, berhasil membuai saya untuk tetap menjaga mood, agar ekspektasinya senantiasa rata. Karena di film-film Ari Aster sebelumnya, dia adalah seorang jenius yang senang melakukan mind blowing ke dalam nilai-nilai intensifikasi film-nya.

Perlahan dan mencekam dalam suasana terang adalah hal tersulit untuk dieksekusi oleh seorang sutradara ke dalam fim ber-genre horor. Namun Ari Aster sukses mengaplikasikan-nya ke dalam keseluruhan scene. Kegilaan-kegilaan dan berbagai hal absurd yang menjadi menu utama Midsommar, menjadi lautan pesona yang seperti tiada henti memberikan keepikannya terhadap mata penonton.

Visual-nya edan, penghayatan para cast-nya pun total. Midsommar adalah salah satu karya seni terbaik rilisan tahun 2019. Mengalir dengan cantik, dari awal hingga akhir. Oh ya, Florence Pugh adalah playmaker-nya.

Share this article :
Vantage Banner Ads