Menyelami Makna Tubuh Sebenarnya di Kucumbu Tubuh Indahku

Kucumbu Tubuh Indahku mendulang banyak kesuksesan di berbagai ajang penghargaan film baik lokal maupun internasional. Film karya sutradara kawakan Garin Nugroho ini menyimpan banyak hal menarik di dalamnya. Berkisah tentang perjalanan hidup seorang penari Lengger di Jawa Tengah, Kucumbu Tubuh Indahku membawa definisi tentang tubuh manusia yang tak pernah disadari sebelumnya.

Kucumbu Tubuh Indahku mengisahkan perjalanan hidup seorang pria bernama Juno (Muhamad Khan) mulai kecil hingga beranjak dewasa. Juno tumbuh besar di desa kecil daerah Jawa yang kental dengan tarian Lengger atau penari laki-laki yang menari tarian perempuan. Sebagai alur cerita film ini mengadaptasi pengalaman hidup Rianto, seorang penari Lengger asli yang kini menetap di Jepang.

Perjalanan Hidup Juno

Film dibuka dengan kemunculan Rianto yang menceritakan masa kecilnya. Sebagai prolog, cerita dari Rianto ini menjadi pengantar masa kecil Juno yang cukup pahit. Juno kecil yang diperankan oleh Raditya Evandra harus menjalani hidup yang berat tanpa orang tuanya. Tinggal di desa yang lekat dengan Tari Lengger membuat Juno berminat dengan tarian tradisional ini.

Singkat cerita, Juno berhasil bergabung dengan rombongan tari Lengger setempat yang beranggotakan banyak pria. Rombongan ini dipimpin oleh seorang guru yang diperankan oleh Sujiwo Tejo. Namun, cerita kelam Juno dimulai disini ketika ia diberi pengajaran tari yang sangat bernada seksual. Untuk anak sekecil itu, Juno dipaksa melihat alat kelamin istri gurunya itu yang disebut sebagai “lubang kehidupan”.

Hal memilukan selanjutnya adalah saat Juno melihat langsung gurunya membunuh seorang murid yang ketahuan berzina dengan istrinya dengan sebilah clurit.

Setelahnya latar cerita Juno berganti mulai perpindahan ke rumah bibinya (Endah Laras). Disini Juno menemukan bakat dirinya yang cukup unik yakni lihai memeriksa kesuburan ayamnya dengan memasukkan jarinya ke dalam kelamin ayam. Namun keahliannya ini tidak disukai Bibinya. Sementara itu, Juno tetap melanjutkan pelajaran tarinya dengan seorang guru wanita (Dwi Winarti).

Masalah datang ketika di suatu momen Juno diminta untuk meraba belahan dada sang guru tari. Akibat perbuatan ini sang guru digelandang warga setempat karena dianggap melakukan tindakan asusila.

Setelahnya cerita berpindah ke masa Juno remaja. Disini Juno bertemu menemukan cinta pertamanya dengan seorang petinju bayaran (Randy Pangalila). Dengan penampilan gagah si petinju, Juno pun menaruh hati dan bersedia membantu sang petinju melewati masa sulitnya. Kemudia cerita beralih ke masa Juno Dewasa yang akhirnya berjaya menjadi penari tetap di sebuah kelompok tari. Namun Juno dibenci oleh seorang Bupati (Teuku Rifnu Wikana) karena menolak tawaran untuk berhubungan dengan penari yang lebih tua (Whani Dharmawan).

Tubuh Sebagai Manifestasi Utama Dalam Kehidupan

Kehidupan Juno yang penuh liku ternyata cukup membekas di memorinya. Setiap peristiwa telah terekam dengan rapi di sekujur tubuh pria yang satu ini. Seperti cerita yang diilhami dari kisah hidup Rianto, tubuhnya menyimpan semua peristiwa yang terjadi dalam hidupnya dengan rapi.

Setiap bagian cerita dalam film ini mulai dari Juno kecil hingga dewasa dijembatani monolog yang disampaikan oleh Rianto. Tak sekedar cerita belaka, gerakan tubuh yang diperagakan Rianto juga memperlihatkan kematangannya sebagai penari Lengger.

Karakter Juno dalam film ini terkesan irit dalam berbicara. Namun bukan berarti pesan dalam film Kucumbu Tubuh Indahku tak tersampaikan dengan baik. Malah dengan karakter Juno yang seperti ini, penonton diajak untuk membaca cerita yang dibawa olehnya. Mimik muka dan pergerakan tubuh menjadi media dalam ekspresi dari apa yang Juno rasakan selama film ini berjalan.

Alur cerita yang disusun oleh sang sutradara Garin Nugroho memang pantas diacungi jempol. Runtutan cerita dari Juno kecil hingga dewasa mampu dikemas begitu rapi. Selain itu, muatan film ini tak melulu soal tarian belaka namun juga menyentuh persoalan lain yakni kepercayaan dan politik yang juga mendarah daging di pelosok desa. Dimana perebutan kekuasaan masih dilakukan dengan berbagai cara dengan melibatkan kepercayaan dan kebudayaan leluhur.

Layaknya film festival, Kucumbu Tubuh Indahku terkesan dikhususkan untuk segmen tertentu. Bagi penonton awam mungkin cukup sulit mengikuti alur cerita yang terus berpindah-pindah. Meski begitu, penonton disuguhkan dengan pengambilan gambar yang ciamik. Maka tak heran, bila Kucumbu Tubuh Indahku meraih banyak penghargaan baik di ajang lokal yakni Festival Film Tempo 2018, Festival Film Indonesia (FFI) 2019. Dan penghargaan di ajang internasional yaitu Venice Independent Film Critic 2018, Festival Des 3 Continents 2018, dan Asia Pasific Screen Awards 2018.