Hindia Kuak Menari Dengan Bayangan Secara Agresif

Solois pemimpin Feast yang kerap berujar mengenai kritik sosial di dalam lirik-liriknya, Baskara Putra aka Hindia, sukses meraup perhatian pemirsa milenial melalui macam-macam langgam jenial yang terdapat di dalam album pertama dia ‘Menari Dengan Bayangan’.

Setelah beberapa kali putar dengar materinya, kecanggihan Hindia dalam bermain lirik tercuat gamblang di beberapa lagu seperti “Evakuasi”, “Besok Mungkin Kita Sampai”, “Dehidrasi”, dan “Untuk Apa/Untuk Apa?”. Sepintas seperti sedang mendengarkan Franky Sahilatua, Iwan Fals, dan Mogi Darusman sedang melakukan perbincangan rahasia di salah satu sudut jalan Cikini, yang mereka lakukan 40 tahun lalu, demi mewujudkan langkah folk ke arah yang lebih modern, adaptif, serta berbaur dengan wilayah kekinian, agar lebih berisi.

Kepiawaian Hindia dalam mengatur notasi yang akan dia sangkutkan ke dalam lagu, rasa-rasanya seperti sesuatu yang normal dilakukan oleh para seniman musik. Namun pola dia dalam mengatur roh agar keseluruhan lagu lebih bernyawa, terbaca lebih detail serta mumpuni. Dalam setiap lirik maupun instrumen cara bernafasnya jelas, degup jantungnya normal, dan tidak ada ornamen yang dibuat-buat. Untuk pengamalan sebuah apresiasi seni musik dan suara, hampir setiap geliat not yang dilakukan oleh Hindia selalu mendekati hasil yang maksimal.

Hindia nampak memiliki cinta yang sangat besar terhadap profesinya sebagai lirikus dan musikus. Dia bermain seni dengan lepas, melakukan riset secara benar, menulis lirik sepenuh hati, dan nampak selalu berbahagia dengan figurnya yang sekarang. Hal-hal itu jelas terkuak di dalam materi ‘Menari Dengan Bayangan’ ini. Tak ada yang dia incar, namun sekarang seluruh penikmat musik Indonesia sedang mengincar karya-karyanya. Semua itu dia jadikan sebagai paket menarik yang berkualitas, di mana tangkapan dan observasinya terhadap apa yang dibutuhkan oleh telinga masa kini, tersampaikan dengan baik.

Menari Dengan Bayangan adalah album yang agresif. Berani apa adanya, tidak terbebani, dan dipikirkan secara apik. Siapapun yang rajin mendengar karya-karya lokal fenomenal di masa lalu, akan merasakan pengulangan di album solo Hindia ini. Tentu saja dalam gaya yang berbeda. Dunia masa kini. Bicaranya Hindia di dalam album tersebut menarik, memiliki kelas, serta berpotensi menjadi sejarah.