Folklore, Album Serius Sekaligus Jenius Dari Taylor Swift

Ada pesan berbeda yang dibawa oleh album ini. Antara Taylor Swift yang ingin terlihat lebih dewasa, atau sisi musikusnya yang berharap dianggap lebih berumur melalui detail-detail instrumen yang terpadu di dalamnya. Folklore menjadi antologi dia yang ke-8, di mana iramanya dirangkum secara sempurna ke dalam kelabu isolasi, yang kemudian penetasannya dilakukan pada era kabisat tersial sejarah umat bumi dan manusia. Lalu bagaimana dengan hasilnya?

Penyanyi berusia 30 tahun ini tidak lagi terlihat seperti remaja muda dengan gitar kopong beserta lagu-lagu Country nya. Taylor hari ini jauh dari gambaran dia 10 tahun silam, ketika karirnya baru dibangun, dan namanya masih berbentuk kepingan fragile dalam ingatan. Folklore jadi media untuk menyombongkan diri, untuk membisikan cerita kepada puluhan juta pasang kuping di dunia, bahwa inilah dia hari ini. Seorang diva dengan kekayaan luar biasa, yang mempunyai rumah mewah di Rhode Island, di mana kemampuannya dalam hal membuat lagu menjadi di atas rata-rata, namun dia tetap tak mau lari dari kenyataan sebagai seorang gadis yang memiliki berbagai persoalan cinta tanpa ujung.

Folklore berisi 16 track dengan nada-nada gloomy yang dicipta Taylor bersama beberapa kolaborator musisi. Pengerjaannya dilakukan dalam masa isolasi, dan ditemani oleh gitaris anyar band Post Pop Cult yang begitu harum di era tengah 2000-an, The National, bernama Aaron Dessner. Aaron di sini sekaligus menjadi produser plus penentu keputusan produksi level 2 di dalam album ini. Selain Aaron, turut mendukung juga sosok Jack Antonoff yang telah setia mendorong Taylor pada album sebelumnya, Lover.

Lalu ada juga kolaborasi Taylor dengan Justin Vernon, (vokalis Bon Iver) di track 4 yang berjudul Exile. Album ini punya daya magis yang membawa imajinasi pendengarnya ke dalam hutan belantara berkabut padat beraroma pethicor, di mana suasananya mampu memaksa batin berkontemplasi terhadap masalah-masalah yang sedang bergelayut dalam pikiran.

Beberapa nomor dalam album ini patut disoroti keanggunan dan keindahan kata-kata dalam liriknya, seperti pada nomor Cardigan, My Tears Ricochet, Exile, August, Invisible String dan Betty. Lagu-lagu di album ini diduga memiliki benang merah dengan sebuah cerita fiksi berjudul Teenage Love Triangle, yang bercerita tentang kisah cinta segitiga antara ketiga karakternya: Betty, Inez dan James.

Tidak salah jika banyak yang setuju mendaulat folklore sebagai album terserius yang pernah dibuat Taylor Swift lewat sedemikian bebunyian dan notasi-notasi yang mengiringi dalam setiap track-nya. Di dalam album ini nampak pula bagaimana perfeksionisme nya seorang Taylor dalam menyajikan maha karya terbernas, sekaligus sebagai ajang pembuktian untuk kedewasaaannya dalam berkarya.