Fatwa Romantis Kehidupan Versi FSTVLST II

Membuka pagi dengan satu langkah pasti ke arah kantor, iringan seok kaki disertai instrumen nyaring sempurna dari dentum magis album avant-garde bertajuk FSTVLST II. Tujuh dari sembilan isinya disebar bebas lewat website resmi komplotan asal Yogyakarta ini, sedangkan dua lagi jadi buah penasaran yang harus di beli di ujung tanggal tua.

Ibarat tubuh sehat yang diterpa polusi dan bakteri mematikan. Album ini adalah jelmaan sempurna dari akal lirik dan organ bunyi. Bergizi lengkap nan sempurna, karbohidrat genderam empuk, protein petik seret senar bertaji, serta sedikit lemak pada gawai elektro. Lalu sisa polutan menghinggapi, mengasah urusan gendang telinga, hingga terjadi kepekaan nurani bagi para penikmatnya.

Untuk si pembuka GAS! dipasang pada deretan pagar bagus yang mengantar raga ke jathilan megah tanpa mimbar CDJ. Berangkat dengan dentum senang picu dansa intensitas sedang, dilanjut celoteh Farid tentang kehidupan yang tak kunjung linier. Motivasi sesungguhnya bagi manusia yang tersasar jauh dari tujuan maupun jalan matang rencana awal.

Rupa terdengar sakral di awal, namun menggebu pada detik ke 27. Genderamnya membawa dalam problematika untuk kembali merayakan nafsu. Buai petuahnya seakan bergumam dalam sentil gitar dan tarik bass. Ayun air guitar norak diperbolehkan sejenak, sebelum masuk ke brigde dan kembali dibakar gebuk drum. Kejut.

Seusainya, aroma post-rock semerbak mengalun, Vegas membahana berbahaya, larut dalam subtansi lirik setengah satir. Menebar benci pada ordo kebohongan dengan nuansa penuh dendam dan curiga. Berjulid ria dalam lingkaran remang kejujuran sunyi.

Kelarnya Mesin menyaut, di bawanya penggalan Hujan Mata Pisau dengan notasi dan instrumen ala Hits Kitsch, yang menurut sebagian kaum yang belum bisa beranjak dari sound FSTVLST album awal. Enam kalimat berima berakhiran “kir” dan disaut jerit keringat pekerja jadi bobotnya. Model mars pada demonstrasi pekerja ataupun mahasiswa, melangkahi hymne gumam gontai Peradaban, subjektif hamba.

Lalu ‘Syarat’ jadi track selanjutnya. Tidak terlalu marah, namun cukup panas membakar. Tabuh gendang pembuka dan lafaz tempo lamban. Setelahnya kocok gitar dan sedikit nuansa synthesizer menjadi ornament penghias sempurna. Tidak usah terlalu bertele, track ini tidak cukup menarik dengan durasi panjangnya, dibanding tembang yang lain.

Dominan synthesizer lagi-lagi beredar di track ke tujuh. Tajuk Telan jadi puisi indah bagi lingkungan. Pesan tajam bagi rimba yang tergusur cakram mesin dari ego makhluk yang dikatakan paling sempurna. Tegur lantang. Hayat menutup tujuh amunisi gratis yang bercokol pada situs resmi. Auman, tawa, oceh sekaligus doa mengalir deras mengkritik penghamba dengan harapan segera sober dari mabuknya.

Terima kasih telah mengambil keputusan mencipta karya luar biasa FSTVLST.