Farming : Gambaran Nyusruk Rasis Inggris Dekade 80-an

Semua isu rasial, emosi terdalam dan narasi tentang dinamika kehidupan keji medio 80an yang dibangun di dalamnya terasa realistis. Kisah nyatanya seakan tidak ada embel-embel metafora basi. Kenyataan yang disajikan sepanjang 180 menit lebih dalam film berjudul Farming prakarsa Netflix tersebut wajib ditonton sampai usai credit title mengulur.

Film pengguncang emosi ini mengkisahkan jalan terjal hidup pria bernama Enitan yang lahir dari keluarga kulit hitam Nigeria. Enitan hidup dengan sedikit belas kasih orang tua kandungnya. Ayah dan Ibunya sibuk menuntut ilmu dan merintis karir di Inggris. Enitan kecil pun dibesarkan keluarga Carpenter yang merupakan keluarga buruh kulit putih. Titip asuh antar ras seperti ini di beri nama Farming, fenomena sosial yang kerap terjadi di Inggris era 60-80an kala badai imigrasi penduduk Nigeria ke Inggris gencar digalakan.

Intrik rasial dan kriminalitas mewarnai hidup Enitan. Pada masa itu Inggris sedang dalam ancaman krisis rasisme. Kala kampanye “Keep Britain White” galak di gemakan, para pribumi kulit putih yang tidak terima lahan-lahan pekerjaan nya dibagi dengan imigran Afrika yang berlabuh di tanah Elizabeth. Ditambah lagi dengan tingkat kriminalitas, kultur geng jalanan dan narkotika yang subur tumbuh menggila pada benak muda-mudi Britania.

Enitan muda yang kekurangan kasih sayang pun tumbuh dalam tekanan dan depresi. Masa remajanya pun diisi dengan labil emosi dan temperamental. Enitan remaja merasa lahirnya dia sebagai kulit hitam merupakan kesalahan besar.

Supremasi kulit putih merebak mengiringi masa remaja Enitan lewat bully dan intimidasi. Dirinya pun dipertemukan dengan komplotan skinhead garis kanan anti kulit berwarna. Enitan yang awalnya di bully habis-habisan pun tertantang bergabung di dalam kelompok anarkis tersebut. Masa kelam hidupnya pun dimulai.

Farming ditulis dan digarap langsung oleh Adewale Akinnuoye-Agbaje. Kisah yang tertuang sendiri merupakan hikayat nyata dari masa kecil Akinnuoye-Agbaje yang hidup dibawah tekanan kampanye suram supremasi kulit putih yang gencar melakukan aksi-aksi intimidatifnya ke kaum kulit berwarna. Farming menggambarkan itu semua dengan nyata dan terasa gelita warnanya.