Tak Ada Duo Yang Lebih Pantas Berbicara Narkotika di Dalam Sebuah Lagu Selain Duo Kribo

Jika saja Ucok Harahap tidak hengkang dari komplotan musisi kidal Apotek Kali Asin (AKA) dan Godbless tidak kekurangan tawaran manggung di 1977, Indonesia mungkin tidak memiliki hikayat sejarah seni suara gemilang lewat serangkain karya bernas yang ditoreh satuan grup cadas Duo Kribo yang berisikan Ahmad Albar dan Ucok Harahap.

Tampilan nyentrik Ucok Harahap berpadu mesra dengan paras tampan Ahmad Albar, keduanya tampil serasi dengan rambut afro dan hidangan gema musik rock yang jadi identitas Duo Kribo dalam merajai panggung musik Indonesia medio 70-an. Lewat serangkaian lirik kurang ajar, tengil, berani, serta tajamnya sajian distorsi gitar berlapis leking kibor, Duo Kribo sukses menoreh banyak catatan penting dalam perjalanan musik rock Indonesia lewat 4 volume album ganasnya.

Volume pertamanya lahir di 1977 dengan 8 materi di dalamnya. Monalisa, Neraka Jahanam, Rahmat dan Cinta, Cukong Tua, Discotique, Wadam, Kenangan, dan Kami Datang sukses menyita kuping-kuping sensitif pelahap musik cadas pun afro. Substansi liriknya yang cenderung berani jadi muatan tersangar Duo Kribo. Tercium baunya aroma / Asap narkotika dan ganja / Semua remaja berubah / Bagaikan boneka.. dalam Discotique contohnya. Belum lagi atmosfir musik garang hasil padu pikir Ian Antono, Ahmad Albar dan sang fenomenal Ucok Harahap. Ketiganya berhasil mengkreasi bunyi-bunyian rock, psychedelic, glam, afro, hingga blues melebur menjadi satu unit.

Projek sampingan dua musisi ini dapat dikatakan salah satu yang tersukses dalam catatan panjang industri musik Indonesia. Total 100.000 kaset sukses terjual dalam perjalanan karir Duo Kribo. Sebuah prestasi yang amat gemilang di dekade tersebut dengan cukup ramainya pasar dan terpaan materi-materi musik barat yang deras menginvasi sepanjang tahun.

Pada debut album volume kedua dan selanjutnya Duo Kribo menggait serta Yockie Suryaprayogo pada divisi kibor, melengkapkan formasi emas serta sebagai bukti keseriusan keempatnya berkarya penuh. Formasi yang menetaskan tembang terhits sepanjang masa seperti Pelacur Tua, Penari Jalang, Fajar Menikam, Tertipu Lagi hingga Rayuan Harta yang laris dibawakan dalam ragam versinya oleh musisi-musisi kenamaan di dekade-dekade selanjutnya.