Rekaman Euforia, Musik, Narkotika dan Persaudaraan Dalam Woodstock: Three Days That Defined a Generation

Sementara pemuda pemudi wajib militer dan bala tentara mati sia-sia di tanah Vietnam pada agresi Amerika ke tanah Indochina dekade 60-an. Agresi yang kemudian menimbulkan penolakan keras dari para remaja yang tahu bagaimana keji dan tidak bergunanya operasi yang dilakukan negaranya. Respon keras itu berdampak melahirkan kultur baru bernama Generasi Bunga yang mendambakan perdamaian pun kebebasan. Untuk itu semua, festival kultus bernama Woodstock ’69 diselenggara dan dokumenter Woodstock: Three Days That Defined a Generation mencerita semua detail elsitnya.

Pemuda pemudi di tanah Amerika tahu betul ada yang salah dengan tindakan yang diambil pemerintahannya. Bagi mereka perang adalah sia-sia dan sama dengan buang nyawa. Sementara situasi beranjak memburuk di 1969. Maraknya pembubaran demonstrasi pemuda dan serta kekalutan terbunuhnya salah dua pejuang hak sipil, aktivis Martin Luther King dan senator Robert F Kenedy, kian memperpanas suasana. Kebebasan dan perdamaian pun jadi tuntutan luhur segenap pemuda dan pilihan menjadi hippies adalah teatrikal dari aksi protesnya.

Di tengah cemas warsa 1969 tersebut Woodstock hadir. Selebarannya disebar, 3 Days Peace and Music jadi jaminan festival musik cikal bakal artsy tersebut. Pamflet yang seakan berujar untuk sejenak lari dari kalut dan jenuh peradaban kelam, pun maklumat untuk meraya bersama di tanah lapang kawasan White Lake, New York selama 3 hari 3 malam.

32 Musisi fenomenal era tersebut dihadirkan festival yang dihelat di tanah seluas 600 hektar tersebut. Sebut saja nama-nama seperti: Santana, Quill, Sweetwater, Bert Sommer, Grateful Dead, Janis Joplin, Sly and The Family Stone, The Who, Jefferson Airplane, Joe Cocker, Crosby, Still, Nash and Young hingga Jimi Hendrix dan beberapa lainnya.

Perjuangan John Roberts, Michael Lang, Joel Rosenman dan Artie Kornfeld pada pra-acara tidaklah mudah. Dalam dokumenter berdurasi 97 menit ini keempatnya harus bermandikan keringat. Dari penolakan, pencarian venue dadakan, pembatalan band hingga pembangunan yang harus dikejar dalam kurun waktu 7 hari. Itu baru pra-acara, bagaimana dengan saat acara berlangsung?

Festival Woodstock diprediksikan akan menghadirkan 200.000 ribu pengunjung. Namun semuanya meleset jauh dari dugaan, pengunjung yang datang membludak hingga 400.000 ribu orang. Kemacetan panjang pun terjadi, lalu lintas mati sepanjang acara. Untuk itu semua pengisi acara terpaksa di terbangkan dengan helikopter untuk sampai venue. Belum lagi permasalahan logistik makanan yang habis di hari kedua dan polemik P3K yang kurang memadai untuk banyaknya pasien yang keracunan dan bad trip efek dari gempuran narkotika LSD, ganja dan hashish yang pasokan nya tidak terbatas untuk 3 hari selenggaranya.

Diluar itu, sisanya hanya kebahagiaan dan kekeluargaan yang terbangun erat diantara beratus ribu pemuda-pemudi yang datang dari penjuru dunia. Bahkan Max Yasgur selaku pemilik lahan tidak kecewa tanahnya rusak, apa yang ia katakan di atas panggung berharga. Baginya ini merupakan sebuah sejarah dimana remaja membuktikan diri kuatnya mereka kala bersatu, sebuah momen yang menunjukan pada dunia bagaimana pergerakan pemuda itu nyata dampaknya.

Dokumenter berjudul Woodstock: Three Days That Defined a Generation yang di sutradarai Barak Goodman, Jamila Ephron ini adalah sebuah paket lengkap perekam momen bersejarah. Di dalamnya kisah-kisah kelam berujung bahagia di warsa 1969 tersaji utuh. Kisah indah dari sajian festival yang membuka sebulat mata dunia akan besarnya dampak remaja dalam putaran peradaban. Momen yang patut pula untuk dicatat selenggaranya dalam hikayat musik, kultur, seni dan politik tentunya.