Catatonia : International Velvet

Cherys Matthews, Mark Roberts, Paul Jones, Aled Richards, dan Owen Powell berhasil menjadi gandrung baru bagi para pengejar syahwat musik pop daratan Inggris. Cinta mati muda mudi kala itu terhadap formula candu yang diterapkan oleh kelima orang tersebut, ke dalam sebuah grup yang bernama Catatonia, adalah salah satu ‘kekasih’ terbaik playlist 90-an. International Velvet adalah bukti terbagusnya.

‘Mulder Scully’ menyelinap sebagai genderang tanah Wales terhit di zaman itu. Bergandengan dengan film seri The X-Files, Catatonia meraup popularitas sebagai band asal Wales yang renyah, maksimal, serta selalu menarik untuk disimak.

Lagu pembuka ‘Game On’ terdengar seperti sebuah hymne melankoli yang frekuensinya berada di tengah-tengah. Galau tidak, gembira pun tipis-tipis. Hanya bermodalkan aransemen sederhana tanpa neko-neko, Catatonia bak ditakdirkan menjadi band paling tidak ‘macam-macam’ di zaman tersebut. Meski musiknya standar, tapi segala lagu yang mereka kuak memiliki kekuatan kuat untuk mengajekan posisinya sebagai salah satu grup yang paling berpengaruh terhadap kelangsungan musik pop masa kini.

Berdiri sejak 1992, menjadikan Catatonia sebagai grup yang memiliki sikap dalam bermusik. Terbukti dari beberapa tembang seperti ‘Road Rage’, ‘Johny Come Lately’, dan langgam jenius ‘Goldfish and Paracetamol’, band ini berhasil menjadi patron trengginas grup-grup bervokalis perempuan.

Sisa track seperti ‘Don’t Need The Sunshine’ dan ‘Strange Glue’, harusnya sudah bisa mendapatkan jatah lebih, untuk didengarkan, dijadikan referensi, oleh generasi masa kini. Bagaimana Catatonia berpola musik yang standar, santai, namun mendapatkan hasil akhir karya-karya yang abadi, adalah