Bukan Film Kabur Dari Penjara Biasa, Escape From Pretoria

Ini adalah kisah nyata tentang perjuangan hidup seorang aktivis anti-apartheid yang hak hidupnya dirampas paksa, mulutnya dibungkam dan raganya dipendam dalam penjara berpenjagaan maksimum. Jiwa berontaknya tidak berhenti ketika borgol membelenggu tangganya, akalnya tidak putus kala jeruji tertutup, seketat apapun tempat, selalu ada celah baginya. Semua tertuang di Escape From Pretoria.

Film ini menjelaskan secara jelas bagaimana kebobrokan hukum, rendahnya kesadaran Hak Asasi Manusia, pembungkaman hak bersuara, politik statis serta segregasi ras yang terjadi di Afrika Selatan pada tahun-tahun 70an. Memaksa beberapa manusia berjiwa besar memberontak dan memprotes sistem yang berlaku, salah satunya diantaranya, Tim Jenkin. Jenkin adalah seorang pemuda taktis yang punya akal cerdas, dirinya aktif tergabung dalam organisasi oposisi penentang Apartheid bernama African National Congress (ANC).

Jenkin berbeda dari simpatisan ANC umumnya yang gemar melakukan aksi demonstrasi dan forum terbuka, baginya cara tersebut kurang efektif, dirinya pun punya cara protes berbeda dari lainnya. Demi mendapat perhatian masyarakat Tim Jenkin dan rekannya Stephen Lee menyebarkan sebaran mengenai bobroknya sistem Apartheid melalui bom berdaya ledak rendah yang diletakan di pusat kota. Bom tidak ditujukan untuk melukai, baginya penggunaan bom dapat mematik atensi sekaligus alat yang dapat menghamburkan berlembar-lembar sebaran protesnya. Naas, sesaat setelah aksi tersebut berhasil dioperasikan, polisi yang cekatan langsung membekuk keduanya.

Jenkin dan Lee pun didakwa dengan pasal terorisme akibat penggunaan bomnya. Tim Jenkin dijerat hukuman 12 tahun, dan Stephen Lee 8 tahun, keduanya pun dijebloskan ke penjara dengan tingkat keamanan maksimum di kota Pretoria. Penjara tersebut adalah tempat jahanam yang para sipirnya tidak dibekali dengan rasa kemanusiaan terhadap narapidananya. Penjara tempat keduanya mendekam juga merupakan tempat pembuangan para aktivis dan tahanan politik anti-apartheid.

Jenkin dan Lee punya rencana untuk melarikan diri dari penjara tersebut, jiwa pemberontak duo ini tidak dapat dibelenggu, berbagai akal pun strategi disusun. Aksi keduanya dibantu oleh seorang narapidana yang punya niatan sama bernama Leonardo. Masuknya Leonardo pun memantapkan strategi ketiganya.

Film ini cukup mengundang debar jantung mana kala beberapa kali kecerobohan Jenkin, Lee ataupun Leonardo hampir diketahui sipir lapas. Belum lagi adegan ketika ketiga hampir sampai di pintu terakhir lapas. Ini adalah kisah nyata akan membuat emosi dan adrenalin teraduk rata dalam hanyut lakon Daniel Radcliffe, Daniel Webber dan Ian Hart.