Blood Orange Menguntai Mixtape Akhir Pekan 90-an Dalam Angel’s Pulse

Dev Hynes, multi instrumentalis Blood Orange, menjadikan album keduanya bak jahitan pita mixtape usang yang tiada pernah tersentuh, sehingga bara not-notnya ibarat rilisan musisi jadul bego yang pintarnya kelewatan.

Kolaborasi dia dengan jagoan Memphis, Project Pat dan Gangsta Boo, ditambah kemunculan mutan hipster yang sebenarnya ngga hipster hipster amat, Toro Y Moi, membuat album ini semarak akan aneka warna akhir pekan 90-an. Ibarat ekstasi era Zarima, bahan-bahannya lezat, tidak ada campuran materi-materi yang berlebihan, konstan, dan enak dari awal hingga akhir.

Benzo, Birmingham, dan Baby Florence, adalah terobosan masa lalu yang mendapat lamak lamak polesan sintetis lunak, sehingga berhasil menjadi kejutan masa kini yang positif. Serasa Mixtape yang harus kita putar ulang secara terus menerus, untuk menarik perhatian gadis-gadis bermuka datar yang senang memakai kemeja tanpa kerah, dengan kancing dibuka dua.

Sementara Tuesday Feeling, Seven Hours Part 1, Take It Back dan Happiness adalah kolaborasi keniscayaan penuh percaya diri, yang membuat kultur pop semakin terang, melalui jamahan-jamahan lintang pukang si genit Dev Hynes.

Album ini merupakan jawaban semesta akan kebutuhan musik penutup akhir zaman, agar tidak semakin terdera dan bercerai berai, karena stres akibat tekanan komposisi-komposisi yang harus terdengar pintar. Niscaya Blood Orange beserta album Angel’s Pulse masuk surga.