Black Mirror : Konsekuensi Kelam Kemajuan Teknologi

Akan seperti apa jadinya jika alat, mesin, perangkat elektronika hingga beragam kecerdasan buatan justru menjadi sesuatu yang membahayakan keberlangsungan hidup manusia di masa depan? Serial fiksi-ilmiah Black Mirror pun menjawab pertanyaan khawatir tersebut secara sarkas lewat berbagai lakon cerita dan permasalahan hidup di tiap-tiap episodenya.

Black Mirror merupakan serial televisi Britania Raya yang disutradarai Charlie Brooker. Sejak dirilis pada 2011, serial beraliran cerita satire-fiksi-ilmiah ini telah melahirkan lima season dengan jumlah total 22 episode. Tiap-tiap episode serial Black Mirror tidak berkaitan satu sama lainnya. Masing-masing episode menyajikan cerita, latar dan permasalahan berbeda.

Secara garis besar, Black Mirror bercerita tentang bagaimana kehidupan manusia di masa modern yang dipenuhi berbagai teknologi canggih yang menunjang taraf hidup. Di balik itu semua, tiap-tiap teknologi yang diciptakan punya dampak buruk dan resiko berbahaya dari penggunaannya. Dampak buruk kehadiran alat-alat canggih nan modern ini menjadi kalut masalah tersendiri bagi kelangsungan hidup manusia di masa modern.

Melalui cerita-cerita yang disajikan, Black Mirror seolah berupaya menebar kemungkinan-kemungkinan terburuk dari ketergantungan umat manusia pada teknologi, runtuhnya tatanan sosial dan beragam versi degradasi moral manusia di masa depan.

Landasan pikir kuat pada setiap cerita dan masalah-masalah yang dipertontonkan jadi jurus jitu Black Mirror. Setiap skenario ceritanya memadukan unsur perkara, konsekuensi, ironi, emosi dan elemen kejutan yang mengaduk-ngaduk pikir dan menyisakan tanya besar bagi tiap pasang mata penontonya.

Cerita berlatar masa depan mungkin hanya kedok, berantai pesan moral, sarkas dan kritik yang terkandung dalam tiap adegan dan dialog fiksi Black Mirror nyatanya punya kedekatan dengan kondisi sosial dan politik hari ini.