Beberapa Hal Mengenai Soju, Minuman Paling Tenar Dari Korea

Soju adalah minuman distilasi asal Korea. Sebagian besar merek diproduksi di Korea Selatan. Walaupun bahan baku soju tradisional adalah beras, sebagian besar produsen memakai bahan tambahan atau bahan pengganti beras seperti kentang, gandum, jelai, ubi jalar, atau tapioka (dangmil).

Minuman ini memiliki kadar alkohol yang berbeda-beda. Soju tradisional memiliki kadar alkohol cukup tinggi, yakni mencapai 40 persen ABV (Alcohol by Volume). Tapi untuk mencarinya bisa dibilang agak susah karena penjualannya hanya terbatas di toko-toko khusus atau tempat hiburan yang ditunjuk untuk menjual soju tradisional ini.

Selain yang jenis tradisional, ada juga yang modern yang biasanya dikemas dalam botol berwarna hijau. Kadar alkoholnya sekitar 19-25 persen ABV. Di tahun 2015, soju rasa buah diproduksi dengan kadar alkohol lebih rendah, yakni 16 persen ABV. Selain itu soju botol hijau biasa berkadar sekitar 22 persen ABV.

Soju tidak hanya digemari dan laris manis di Korea saja, pasar global pun mengamini minuman khas Negeri Ginseng ini menjadi minuman beralkohol yang banyak disukai. The Korea Times melaporkan sejak 2010 minuman ini mulai terkenal sebagai komoditas ekspor Korea. Beberapa negara tujuan ekspor adalah Kanada, Tiongkok, Australia, Jepang, Vietnam, Malaysia, Kamboja, Eropa, dan juga Indonesia.

Permintaan dari tahun ke tahun pun meningkat. Tahun 2018 lalu saja Hite Jinro, salah satu produsen soju terbesar telah membukukan ekspor sebesar 53,84 juta US Dollar atau sekitar Rp760 miliar.

Sebetulnya ada sejarah panjang dibalik minuman beralkohol satu ini. Di zaman dulu pembuatan soju memakai bahan dasar beras. Tapi setelah itu, seiring berkembangnya peradaban bahan-bahan yang lebih umum seperti ubi dan gandum digunakan untuk membuatnya.

Ada satu alasan konkrit juga kenapa beras bisa digantikan sebagai bahan dasar pembuatan soju. Laman majalah online Town and Country Mag menuliskan bahwa antara 1960 sampai 1990-an keberadaan beras semakin langka karena diprioritaskan untuk makanan pokok orang Korea. Kelangkaan itulah yang membuat produsen mengubah bahan baku yang awalnya dari beras menjadi gandum dan ubi. Tapi karena keadaan sekarang sudah berbeda dan pasokan beras di Korea melimpah, maka soju-soju modern sudah banyak yang dibuat dari beras kembali.

Di Korea, terdapat setidaknya 10 perusahaan besar yang memproduksi, dan merek yang paling terkenal adalah Jinro Soju dengan angka penjualan sebanyak 61.38% dibanding dengan merek-merek lain.

Terlepas dari pembahasan yang sudah dituliskan di atas, ada etika tersendiri untuk menikmatinya. Saat meminumnya bersama orang lain, janganlah menuangkan minuman ke gelas yang ditujukan untuk diri kita sendiri pada saat pertama ingin meminumnya. Selanjutnya, tuangkan ke gelas orang lain dengan menggunakan tangan kanan sambil disangga oleh tangan kiri.

Saat menerima tuangan dari orang yang lebih tua, peganglah gelas dengan kedua tangan. Cara meminumnya pun harus dengan menutup mulut dan memalingkan wajah terlebih dulu alias tidak boleh menghadap ke orang yang lebih tua tersebut. Terakhir, gelas yang kosong merupakan kode bahwa kita telah siap untuk menerima tuangan lagi.

Itulah beberapa hal mengenai soju, minuman paling tenar yang berasal dari Korea.