Ketika abad 2000 baru saja dimulai, Aksara Records merupakan salah satu label rekaman nasional yang berhasil memegang peranan penting dalam mengembangkan musik-musik lokal bermutu.

Dengan menggaungkan materi-materi band kesukaan pensi di masa itu seperti SORE, The Brandals, Efek Rumah Kaca dan White Shoes And The Couples Company, The Adams ke dalam album fisik, dulangan panggung kerap menghimpuni para muda mudi ini sebagai imbalan yang seimbang terhadap kepintaran mereka dalam hal inovasi seni musik serta suara. Hal tersebut tentu saja tidak lepas dari keseriusan tim promosi Aksara Records, dalam hal memperkenalkan produk-produknya.

Aksara Records merupakan divisi pengembangan dari Aksara Bookstore yang lahir terlebih dahulu. Aksara Records dikomandoi oleh Hanin Sidharta sebagai pemilik, dengan bantuan David Tarigan sebagai Music Director, dan dukungan Indra 7 serta Tony Merle The Brandals yang membantu label ini dalam hal penjualan, kekerabatan dengan media, maupun promosi.

Aksara Records memulai perjalanannya pada tahun 2004. Selain rilisan band-band di atas, Aksara juga aktif memproduksi beberapa soundtrack film yang terbilang bagus sekaligus sukses. Portofolio mereka adalah ‘Janji Joni’ (Joko Anwar – 2005), Berbagi Suami (Nia Dinata – 2006), dan Quickie Express (Dimas Djayadiningrat – 2007).

Ada 1 rilisan Aksara Records yang merupakan kompilasi multi kult awal 2000 yang sekarang kita kenal dengan nama album ‘JKT : SKRG’. Di album itu ada ‘C’Mon Lennon’ yang sukses membuat tembang fenomenal “Aku Cinta J.A.K.A.R.T.A”, lalu The Upstairs, Teenage Deathstar, The Sastro, Zeke and The Popo, juga The Adams.

Aksara Records dikenal dekat dengan skena. Sister Company mereka, yaitu Aksara Bookstore, yang berlokasi di daerah Kemang Jakarta Selatan, kerap dipakai sebagai ajang rilis album band-band berbahaya awal 2000-an seperti Homogenic (Bandung) dan Santamonica (Jakarta). Selain itu, keakraban Aksara Records dengan media, memudahkan jalur promosi album-album rilisannya.

Aksara Records bubar di tahun 2009. Produksian terakhir mereka yaitu Efek Rumah Kaca album ‘Kamar Gelap’. Aksara Records meninggalkan banyak artefak bagi kesenangan dunia musik di Indonesia. Karya-karya yang padat konten bergizi, penampilan panggung para band-bandnya yang teruji, dan peninggalan harta karunnya yang akan terus memberi nilai-nilai influensial bagi karya anak bangsa.

Bekas Marketing Director Aksara Records, Aldo Sianturi, yang sekarang menjadi CEO Billboard Indonesia, pada tahun 2009 di mana itu merupakan tahun terakhir Aksara Records beroperasi, pernah berkata bahwa Aksara Records memang sudah tidak dapat diselamatkan. Hal tersebut masih menjadi misteri hingga hari ini. Entah karena saya yang kurang mempercayai ucapan dia, atau…