Vantage Hoping: Senang Bersama Bamboozle, Terpaku Pada Roman Flugel, Dan Failed di Oasis Koplo

Jumat 8 November 2019,Vantage coba jajal kembali Kilo untuk menyantap hiburan deep/latin techno. Sesudahnya, giliran Queenshead kami sambangi untuk meretas kuping melalui susupan 90’s house. Kegagalan terjadi di Nu China, di mana sayatan Oasis ‘Don’t Look Back In Anger’ versi koplo terasa menghancurkan gendang telinga. Failed.

Soulclapeli alias Bamboozle aka Eli Soul Clap pernah sangat menjulang ketika bermain di Boiler Room edisi Sugar Mountain Festival Broadcast 4 tahun lalu. Saat itu dia memainkan Chill/Down Beat yang lebih ramah. Hal tersebut disemat lagi ketika pria penuh senyum ini bermain di Kilo Lounge Senopati Jumat lalu. Namun ada beberapa pergantian track yang terdengar meleset dan agak sedikit mengganggu kenyamanan perdansaan kami, tapi untungnya tidak terjadi dalam rentang waktu yang panjang, sehingga pengunjung dapat kembali menikmati menu musik Eli sekaligus kembali menggerakan kaki dan tangan untuk meluluhlantakan lantai Kilo.

Sesudah dari salah satu tempat hit di Selatan Jakarta tersebut, kami menggerakan kendaraan menuju Queenshead Kemang untuk melihat seniman elektronik yang turut berjasa membesarkan skena ini sejak awal 90-an. Dia adalah Roman Flugel, sang legendaris selama 3 dekade asal Jerman, yang track-track-nya sering digunakan oleh disjoki-disjoki Indonesia maupun negara lain ketika mereka djing. Rapat, penuh, total, dan menerkam. Itu kesan yang terjadi saat melihat pria kelahiran tahun 1970 ini mengeluarkan daftar lagu ajaibnya. Ditambah visual yang bertemakan film-film kelas bantam era akhir 70 dan awal 80-an Berlin, membuat Queenshead berubah menjadi arena seminal rave yang matang. Lalu berhubung tebaran atmosfir dari orang-orang yang menghadiri acara terdiri dari kharisma-kharisma penting ibu kota, membuat kemistri Roman dan penonton menjadi poin terpenting pada malam itu.

Dari situ kami ingin tahu yang terjadi di club sebelah Queenshead, yakni Nu China, seperti apa kembang tumbuh mereka pada dekade ini. Kebetulan yang main adalah eksponen awal skena, Winky Wiryawan. Terjadilah rasa penasaran yang lumayan menggeliat keingintahuan untuk mengetahui set beliau di zaman sekarang. Ternyata punggawa Junko ini masih loyal memainkan lagu-lagu house techno, prog, dan trance yang sudah begitu popular, disesuaikan dengan kebutuhan audience si club-nya sendiri. Dimafhumi. Setelah Winky, ada seorang disjoki yang bertugas untuk menutup acara. Awalnya dia bermain aman, namun setelah beberapa lagu, mulai muncul keganjilan di mana orang ini memberi vitamin yang lumayan buruk bagi pendengaran kami, yakni berbagai teroran lagu hits yang digubah secara sembrono ke dalam bentuk koplo. Salah satunya lagu milik Oasis ‘Don’t Look Back In Anger’. Cukup berani juga disjoki ini untuk berkontribusi dalam seni menghancurkan lagu, di mana sebuah karya yang teramat istimewa dan mempunyai tempat di hati para fans beratnya, sembarangan dirusak oleh dia, demi memuaskan hasrat koplo para pengunjung. Berkat ending yang kurang elok ini, kami memutuskan menyudahi kegiatan club hoping di malam itu. Karena ‘Don’t Look Back In Anger’ yang dibikin koplo adalah failed. Kasihan Liam dan Noel.