Vantage Hoping: Sebuah Tempat Klasik Disko, Lanjut Crown, Selesai di Colo

Jumat 22 November lalu kami melepas penat ke sebuah klub di daerah Kuningan, tepatnya di dalam Mal Bellagio. Nuansa klasik disko yang begitu kental menyelimuti malam itu.

Meski sound yang keluar bobrok, malah hampir tidak ada enak-enaknya, orang-orang yang datang tetap bergoyang mengikuti alunan irama yang dihembuskan sang disjoki. Untungnya sang DJ bermain apik dan pintar mengatur set. Hal tersebut cukup mengimbangi kehancuran yang disebabkan buruknya speaker dan monitor yang disediakan klub bersangkutan. Tempat ini butuh ahli suara, agar yang datang tidak merasa sia-sia, oleh niat mereka hingga menyediakan waktunya demi bergembira di sana. Berhubung rispek terhadap disjoki-nya, jadi nama klub ini tidak perlu disebut.

Selanjutnya perjalanan dilanjutkan ke Crown, yang menjadi salah satu pusat breakbeat di ibu kota. Sungguh bagi yang terbiasa dengan lagu-lagu disko standar, playlist mereka akan menjadi kebisingan yang luar biasa. Malah dapat membinasakan kuping, sehingga tidak butuh waktu panjang untuk bertahan lebih lama lagi di sana. Kecuali Anda ingin menjajal ‘romantisme’ a la tempat ini, yang tentu saja tidak gratis, alias ada buget untuk kesenangan tersebut.

Kegiatan club hoping akhir pekan kemarin berakhir di Colosseum. Kami menuntaskannya di tempat tersebut. Klub ini seperti saluran olahraga bagi para penggemar EDM. Nampak pemandangan multi ras tersebar di sudut-sudutnya. Sempat juga mereka menampilkan atraksi pole dancing dengan aktor utama seorang pria kokoh namun gemulai. Otentik. Kami lumayan menikmati playlist-nya, karena lebih masuk di telinga ketimbang dua klub di atas. Para disjoki-nya memainkan lagu-lagu yang radio friendly, dan cukup menohok keinginan sebagian besar pengunjung, untuk melangkahkan kakinya ke lantai dansa.

Seyogyanya klub menyajikan lagu-lagu yang sesuai target marketnya. Ketiga tempat di atas sudah sesuai porsinya. Mereka memutarkan lagu-lagu yang sesuai dengan anatomi dan demografi areanya masing-masing. Jadi jika ada yang merasa terperangkap karena mendatangi salah satu tempat tersebut, kesalahan sudah pasti ada di kita sendiri. Salah sendiri, datang ke tempat yang tidak sesuai dengan selera kita.