Menyelami Wadah Ekspresi Seni Terkini di Jantung Sakura, SUBstore Tokyo

Tokyo dikenal sebagai salah satu Ibu Kota terpadat di dunia. Selain itu kota ini juga dilimpahi dengan mobilitas tinggi setiap warganya. Dipenuhi dengan hiruk pikuk, nyatanya Tokyo juga menjadi surga bagi para penikmat seni. Diantara semua itu ada satu tempat tersembunyi yang diam-diam menarik perhatian penikmat subkultur di Negeri Sakura itu. SUBstore Tokyo yang terletak di Koenji ini bergerak untuk menghilangkan penat dengan ramuan musik terbaik dan kuliner khas Indonesia yang tak diragukan lagi kenikmatannya.

SUBstore Tokyo mencuri perhatian di tahun 2019 ini. Kafe yang terletak di kawasan Koenji ini masuk dalam Best of Tokyo Top Sights, Authentic Experiences 2020 versi buku rekomendasi wisata terkemuka, Lonely Planet.

Berdiri sejak 2016, SUB Store didirikan oleh Andhika Faisal, Warga Negara Indonesia yang telah menetap selama 10 tahun lamanya di Jepang. Andhika mengelola tempat ini bersama istrinya yang asli keturunan Jepang yakni Kumi Takaba.

Melihat logo SUBstore Tokyo ini, bagi anda yang pecinta musik rasanya akan menyadari bahwa terdapat kemiripan dengan logo salah satu label rekaman legendaris Amerika Serikat yakni Sub Pop. Andhika mengakui bahwa ia terinspirasi label yang menaungi band legendaris Nirvana itu.

“Sub Pop itu semacam inspirasi sih, sekitar tahun 93 atau 94 itu Nenek gue engga sengaja beliin gue album Nirvana yang Bleach. Itu yang ngubah hidup gue sih haha. Semenjak saat itu gue mulai lupain band-band lama yang gue pernah dengerin, jadi gue belok ke grunge sih saat itu,” kenang Andhika saat pertama kali menyukai Sub Pop.

SUBstore sendiri sebenarnya merupakan singkatan dari Small Unique Bookstore. Andhika bercerita bahwa awalnya ia membuka toko pertamanya di kawasan Pasar Santa, Jakarta Selatan. Bersama ABCD Coffee, SUBStore menjadi perintis kejayaan Pasar Santa sebagai salah satu tempat influensial di Jakarta.

“Sebenarnya SUBstore ini simple ya, SUB itu small unique bookstore. Gue sama adik gue bikin itu, sebenernya SUBstore pertama ada di Pasar Santa. Awal banget bareng sama ABCD Coffee, awal-awal jaman Santa masih kosong lah. Kita emang misinya di musik sih, benang merahnya disitu. Kita jual kayak vinyl, cd, merchandise,” tutur Andhika menceritakan awal berdirinya SUBstore.

Memiliki nafas musik, SUBstore juga mengkurasi musik yang menjadi koleksinya. Berkenaan dengan aliran musik yang digemari sang pemilik. Koleksi vinyl dan merchandise yang ada di kafe ini juga tak jauh dari aliran grunge, rock, punk, dan heavy metal.

SUBstore sebagai sebuah toko dan kafe ternyata begitu aktif mengadakan acara yang menarik animo anak muda untuk datang. Acara seperti pemutaran film atau gigs kerap di gelar. Sejumlah seniman dari berbagai negara pernah datang dan tampil di SUBstore Tokyo ini. Termasuk musisi dari Indonesia seperti RAN, Andien, Rendy Pandugo, Dialog Dini Hari, dan Superman Is Dead.

Andhika bercerita bahwa anak muda Jepang juga memiliki ketertarikan kepada musisi asal Indonesia. Setiap penampilan yang melibatkan musisi Indonesia selalu menarik banyak audience untuk datang ke SUBstore Tokyo.

“Mereka tamu asal Jepang tuh datang dan penasaran sama artis Indonesia. Mereka cewe-cewe banyak yang dateng men jauh-jauh dari Osaka, Kyoto buat nonton RAN. Gue sampe kaget gitu yang dateng sampe 50 orang hahaha” ujar Andhika mengenang penampilan RAN di kafe miliknya itu.

Selain terkenal dengan acaranya yang selalu mengundang keramaian, SUBstore Tokyo juga memiliki menu makanan dan kopi khas Indonesia yang menggugah selera. Meski berada di negeri Sakura, kafe ini sama sekali tak menjual makanan Jepang. Menu yang ada di SUB Store Tokyo sangat lazim ditemui di Indonesia. Antara lain seperti nasi gila, gado-gado, nasi campur, dan tentunya olahan mi instan legendaris yakni Indomie.

Logo Indomie di SUBstore Tokyo

Beralih ke menu kopi, SUBstore Tokyo sangat mengandalkan kopi asli Indonesia. Biji kopi yang dipakai berasal dari Toraja, yang memang terkenal cita rasanya. Hal ini dilakukan karena sang pemilik Andhika ingin menonjolkan cita rasa kopi Indonesia seutuhnya. Sehingga, tak banyak menu kopi yang ditawarkan disini, mereka hanya menyuguhkan menu black coffee.

Dengan segala daya tarik yang ditawarkan SUBstore Tokyo, tempat ini memberikan kontribusi positif bagi Indonesia. Hadirnya kafe yang satu ini menjadikan pengetahuan mengenai tanah air tersalurkan, sehingga makin banyak orang di negeri sakura yang mengenal keberagaman Indonesia.

Tulisan : Farhandhika Alamsyah
Wawancara : Gilbert Joshua
Foto : Gilbert Joshua