Red Light District : Tempat Berburu Narkoba dan Prostitusi Legal

Belanda memang tahu betul bagaimana menarik minat wisatawan berkunjung ke negaranya. Lewat berbagai varian darmawisata sejarah, keindahan alam, lansekap kota, hingga yang paling favorit bagi sebagian orang: wisata narkoba dan prostitusi legal di kawasan bernama Red Light District, Amsterdam, Belanda.

Red Light District berada di De Wallen, Amsterdam, atau lebih tepatnya jalan Zeedijk. Daerah ini merupakan kota tua dengan arsitektur dua jalan utama yang terpisahkan sungai bernama Amstel di tengahnya. Di sepanjang jalan berisikan banyak bar, rumah bordil, klab malam, toko alat bantu seks dan kedai-kedai kopi yang menjajakan ganja sebagai salah satu menunya.

Di malam hari, ironi dan pemandangan berbeda mereka tunjukan. Sejauh mata memandang, etalase-etalase yang paginya kosong akan dihuni oleh para wanita cantik yang silih berganti menunjukan kemolekan tubuh semi-telanjangnya. Lampu merah menyala di tiap rumah bordil, para mucikari hilir mudik tak segan menawarkan katalog PSKnya, musik disetel kencang pada tiap klub yang membuka lebar-lebar pintunya, para bandar narkoba satu per satu mencari konsumen produk ajib sementara polisi yang berjaga belaga tidak terjadi apa-apa. Tidak ada malu dan segan, semuanya terasa seperti normal, bak pasar swalayan dengan penjual sayuran beserta ikan-ikan segarnya.

Tidak dapat dipungkiri memang, legalisasi beberapa jenis narkoba sekaligus prostitusi di Amsterdam memang jadi daya tarik yang amat sangat memikat bagi wisatawan muda dari segala penjuru dunia. Seperti yang dikutip dalam laman CNN Indonesia, sebuah survei yang berlangsung pada Agustus 2019 dan diikuti 1.100 turis mancanegara berusia 18 hingga 35 yang mengunjungi De Wallen mengatakan, jika 57 persen responden mengatakan kedai kopi ganja adalah alasan utama mereka datang ke Amsterdam.

Oh ya, atas dasar privasi pengunjung dan pekerjanya, mengambil gambar suasana rumah bordil dan keramaian Red Light District tidak diperbolehkan. Tertarik?