Hiburan Malam & Kuliner di Sukabumi

Sekarang jarak tempuh dari Jakarta menuju kota Sukabumi sudah dapat dicapai dalam waktu 2 jam setengah. Hal tersebut merupakan sesuatu yang harus dipertahankan, mengingat kota ini telah dihajar habis-habisan oleh kemacetan yang luar biasa selama 10 tahun, dan sukses menimbulkan kejenuhan maksimal bagi para pengguna jalannya.

Mochi yang telah menjadi mitos ‘oleh-oleh’ terbaik dari kota Sukabumi, merupakan pemahaman yang harus segera dipatahkan. Karena banyak pihak yang kecele akibat viral yang terlalu lama ini. Seolah-olah di kota Sukabumi tiada oleh-oleh selain Mochi. Buat Anda yang sedang berkunjung ke sana jangan luput dari pabrik Mie lebar dan Mie kurus yang terletak di kawasan Taman Bahagia Sukabumi bawah. Nama-nama barusan adalah Mie ter-enak di kota yang dari hari ke hari kesejukannya semakin membaik ini.

Selain itu, anggapan bahwa Bubur Bunut adalah yang terenak, adalah kesalahan besar. Coba saja Anda berkeliling ke beberapa sudut Sukabumi, di setiap tempat bubur yang dikerumuni orang banyak, dapat dipastikan 100% rasa dari tempat-tempat nge-bubur tersebut gurih dan nikmat luar biasa. Di mana hal ini akan membuat lidah Anda semakin tergoda untuk mencobanya terus dan terus. Satu info yang cukup penting untuk Anda pertimbangkan, jangan pernah coba cari-cari makanan pas hari raya, karena antriannya bak barisan audisi Indonesian Idol. Hopeless.

Sekarang kita masuki bagian hiburan malam kota ini. Selama kurang lebih dua dekade terakhir, tempat hiburan yang terpampang di macam-macam berita online seolah-olah Sukabumi ini tidak memiliki apa-apa, padahal ada beberapa tempat makan seperti D’Green yang masih fenomenal. Selain itu, ada juga Jazz Cafe yang memiliki playlist lagu a la club Crown Jakarta Kota. Kemudian yang lumayan dibanggakan oleh para pemuda pemudi malam Sukabumi adalah sang fenomena kehidupan malam kota tersebut, yakni Garden City. Tempat ini berwujud seperti Delta dan Fortune Spa Karaoke KW. Beberapa tahun terakhir beberapa tempat karaoke baru juga bermunculan di kawasan china town kota itu, yang dikenal dengan sebutan Odeon.

Pergerakan hiburan malam tersebut merupakan bentuk kelanjutan dari club-club legendaris yang sempat menghiasi dunia malam di Sukabumi. Mundur 25 tahun ke belakang, kota tempat Farid Hardja berasal ini diwarnai dengan keriuhan diskotik, yang pengunjungnya setengah berasal dari kota Sukabumi sendiri, setengahnya lagi dari kota-kota besar seperti Bandung, Jakarta, Bogor, Surabaya, Bali, dan Jogja.

Medio 1993 hingga 1999, Princess, Melinda, dan Wisma Surya menjadi diskotik yang menjadi ajang pertemuan para clubbers di kota ini. Kupu-kupu malam pun bertebaran di seputaran tempat-tempat tersebut. Disjoki-disjoki yang main hampir semua memutarkan lagu house music, sisanya klasik disko. Tentu saja mereka menggunakan piringan hitam, dan kemampuan mixing-nya di atas rata-rata. Namun entah mengapa, di awal 2000-an, semua serempak tutup. Sungguh sangat disayangkan.

Namun dalam 10 terakhir geliat industri hiburan malam di kota yang masih beriklim dingin ini mulai kembali bergairah, dengan bermunculannya tempat-tempat hiburan baru. Jadi mulai sekarang kembalilah berlibur ke Sukabumi, jangan ke Bandung saja, kota mochi dan mie ini bisa dijadikan alternatif liburan Anda.

Kuliner non halal di sekitar Wihara Odeon-nya pun sangat bisa diandalkan untuk memenuhi rasa lapar Anda terhadap yang haram-haram. Recommended! Dan ini bagian terpenting, sejak 2018 jalur dari metropolitan menuju kota Sukabumi sudah terpangkas rapih berkat kehadiran jalan tol yang luar biasa membantu. Hingga hari ini kita bisa memotong perjalanan dengan keluar tol langsung di Cigombong, sebentar lagi menyusul keluar tol Cibadak, dan terakhir akan keluar tol Cisaat Sukabumi.