Changi : Bandara si Pemburu Inspirasi, Pelopor Disiplin Harga Mati

Sebagai bandara internasional yang disemat terbaik, tentu saja berat bagi Changi untuk menggendong piala tersebut agar tetap berjalan konsisten sesuai dengan koridornya. Mereka penuh berjuang agar tempatnya selalu memberikan yang terkelas, sangar disiplin, penuh ide, serta berinovasi tanpa akhir.

Namun hal ini terkadang menjadi momok menakutkan bagi sebagian warga negara dunia yang semakin sering datang ke negeri Singa. Sebelum sampai ke sana, biasanya di pesawat penumpang terlibat obrolan mengenai ketatnya pihak imigrasi Changi. Bahkan untuk perihal kecil seperti menulis data-data kita sebelum memasuki Singapura pun, pulpen yang digunakan harus benar-benar berwarna hitam. Karena jika salah warna, kembali mengantri adalah resiko yang teramat malas dijalani oleh semua penumpang ketika mereka sedang melaksanakan ibadah check out dari bandara ini.

Sementara itu untuk fasilitas jangan dipertanyakan lagi. Inovasi-inovasi teranyar selalu Changi hamparkan demi kepuasan para penggunanya. Mulai dari karpet bandara yang diduga selalu dibersihkan setiap saat dan dicurigai mungkin saja mereka ganti dengan yang baru setiap 6 bulan sekali, hingga ke Free Wifi yang memiliki kecepatan luar biasa. Sehingga siapapun yang sedang berada di tempat itu, seperti sedang merasa berada di kamarnya sendiri, di mana semua dapat bebas browsing apapun tanpa hambatan.

Belum lagi pelbagai fasilitas semacam tempat bermain anak dengan level nyaman kelas dunia, bioskop super grande, mal, hotel, boutique, tempat jual minuman beralkohol, aneka tempat makan mulai dari nasi lemak, bakmi non halal, junk food, hingga restoran premium a la junjungan sultan, semua hadir mempesona publik secara maksimal. Preseden.

Belum lagi ruang tunggu yang sekaliber hotel bintang lima berlian, serta aneka kursi dan sofa yang bebas diduduki asal tidak ditiduri. Sempat di sebuah tengah malam mencoba untuk selonjoran semi tidur di salah satu garis kursi mereka, hal tersebut ternyata tidak butuh lama untuk mencuri perhatian petugas Changi. Dalam dua kerjap dia datang untuk menitahkan info bahwasanya deretan kursi itu tidak bisa diselonjori.

Skytrain yang memudahkan perjalanan antar terminal, lounge dengan rasa super elegan yang memanjakan waktu tunggu, kursi pijat ter-mutakhir yang akan membuat badan kita terasa lebih rileks, toko-toko penjual makanan camilan istimewa, toko buku & majalah, penjual bunga serta aksesoris, dealer mobil yang masuk bandara, cinderamata yang penuh nilai, macam-macam restoran peranakan yang semua rasanya amatlah gurih, serta kelegaan plus keluasan terminal yang bisa menginspirasi Anda untuk membuat banyak tulisan di sana, tentu saja menjadi nikmat tiada tara bagi para penyinggah, pemburu kuliner, pencari liburan, pekerja transit, seniman seniwati, tim pencari inspirasi, dan jutaan profesi lainnya. Inspiratif.

Kembali ke opini mengenai ketatnya petugas imigrasi di sini, terkadang hal tersebut dapat menjadi pisau bermata dua. Bisa menyulitkan, namun tetap menguntungkan. Sulit bagi yang tidak terbiasa dengan ketidakdisiplinan untuk beradaptasi dengan Changi, namun untuk mereka yang sedang ingin memahami jutaan makna disiplin, Changi adalah sekolah terbaiknya. Apalagi bagi warga dunia yang hidupnya disiplin, mungkin sebagian besar dari mereka sering menghabiskan waktu di Changi untuk melatih kedisiplinannya agar tetap update dan terlatih.

Satu hal yang menarik dari Changi, juga beberapa tempat penting lainnya di Singapura seperti National Stadium, mereka merepresentasikan cermin negara Singa terkini: Negeri Bebas Rokok. Preseden #2.