Rumus Sampah Menentukan Jadwal Mabuk

Ketika hari Senin tiba, secara bawah sadar jiwa kita terangsek beban-beban untuk membenahi pekerjaan-pekerjaan yang tertunda. Dari situ keinginan untuk membuai diri dengan kecapan alkohol, mudah sekali mengganggu skala prioritas.

Di hari yang lumayan cerah tersebut, seusai makan siang, beberapa kolega kantor yang se-frekuensi menghampiri dan memanas-manasi hati agar terbelit untuk mengikuti kegiatan tuang miras sore itu. Mereka merasa ada kelaziman jika jiwa-jiwa yang terkungkung oleh gedung beratasnamakan institusi maupun instansi, harus dibiasakan akrab dengan alkohol agar pengendalian hati tetap rasional serta sehat.

Sebaiknya Anda adaptif dengan ajakan tersebut. Namun cukup tenggak seperlunya saja, tidak perlu habis-habisan. Biar saat jalan pulang, kepala tidak kleyengan baik di dalam kendaraan sendiri maupun angkutan umum. Tentu saja lebih berbahaya saat mengendarai kendaran pribadi ketimbang naik Trans Jakarta atau MRT. Anda bisa hancur berantakan lumat oleh mesin dan aspal jika hilang kontrol dan keseimbangan karena mabuk saat mengendarai kendaraan sendiri. Sedangkan dalam kendaraan umum, Anda hanya akan jadi bahan tertawaan dari penumpang lain, dan hal tersebut tidak perlu dirisaukan sebagai aib. Karena, hampir sebagian besar penghuni ibu kota doyan mabuk. Mabuk di hari Senin cukup setengah gelas atau satu seloki.

Jika di hari Selasa kembali ada tawaran untuk bersulang koktail, iyakan saja, namun dengan syarat tidak meminumnya di kantor. Sebaiknya Anda arahkan menuju klub maupun bar yang letaknya dekat dengan tempat tinggal Anda. Itu pun yang jenis pengunjung pria dan perempuannya berimbang. Agar saat Anda tipsi nanti, kemudian tergoda untuk ‘mengganggu’ lawan jenis, batasan-batasan norma-nya masih dijaga. Hal tersebut dikarenakan secara bawah sadar kita akan menghargai ekualiti yang tercipta dari suasana yang ada, juga perimbangan kelamin dari pengunjung yang hadir. Selasa, bolehlah dua seloki.

Biasanya Rabu penuh dengan jadwal rapat. Jangan nodai hari tersibuk ini oleh alkohol berlebihan. Bekerjalah dengan baik dan pulanglah secara selamat. Kehancuran akan mewarnai hari Anda, jika di hari Rabu masih nekat gaspol wiski maupun vodka ke dalam darah kita. Rabu sebaiknya katakan tidak terhadap minuman keras.

Kamis mungkin agak lebih lunak. Biasanya jumlah tawaran mabuk menjadi berlipat ganda daripada hari-hari sebelumnya. Namun sebaiknya Anda pikirkan juga, bahwa esoknya Jumat. Biasanya di hari tersebut masih banyak pekerjaan kantor yang harus kita selesaikan untuk dilaporkan kepada perusahaan. Jadi jangan tergoda untuk mabuk habis-habisan pada hari tersebut. 2 kaleng bir cantik sudah cukup untuk menemani sore ceria Kamis Anda. Itu pun sebaiknya diminum sekitar jam 4 hingga 6 sore. Jadi, ketika Anda pulang dari kantor jam 7 malam, kepala sudah berada dalam kondisi ter-enaknya. Dan perjalanan menuju ke rumah pun tidak terusik acara permabukan yang tidak perlu.

Jumat adalah pangeran dari hari-hari mabuk kita semua. Di hari ini orang Jakarta selalu melakukan selebrasi atas lepasnya hari-hari penat mereka. Selatan, Utara, Barat, Timur, Pusat, semuanya berpesta. Mungkin jumlah karyawan yang langsung pulang ke rumah, serta yang langsung melanjutkan kehidupan permabukannya di klub maupun bar, berimbang. Jadikanlah Jumat sebagai hari bahagia bersama. Jangan sok ingin tidak ikut-ikutan arus. Ikuti saja arus untuk mabuk masal di hari ini. Menikmati alkohol di hari Jumat adalah perayaan sejuta umat. Jumat adalah hari terbaik untuk mabuk.

Sabtu dan Minggu merupakan hari keluarga. Titik.