Sudah Saatnya Kaum Milenial Sadar Akan Pentingnya Mengatur Keuangan

Mengatur keuangan kelihatan masih tabu bagi sebagian besar kaum milenial. Bagaimana tidak, sebagian besar penghasilan generasi ini habis untuk menyenangkan diri sendiri. Membeli kopi, makan di tempat yang instagramable, sampai berlibur jadi aktivitas yang mayoritas dilakukan kaum berusia produktif ini. Sebenarnya tak apa melakukan hal diatas, asal sembari mempersiapkan dana cadangan untuk masa depan. Jika tidak, bersiaplah menuai nelangsa di masa tua.

Generasi milenial diproyeksikan sebagai bonus demografi bagi Indonesia. Pada tahun ini diperkirakan penduduk usia produktif akan mendominasi total populasi penduduk Indonesia sebesar 34 persen. Peningkatan populasi usia produktif sedianya akan memberi pengaruh positif pada pertumbuhan ekonomi negara. Dengan catatan, aset yang dimiliki generasi ini diinvestasikan pada aktivitas yang produktif.

Namun, realitanya generasi milenial justru dikategorikan sebagai generasi yang paling konsumtif.

Bukan barang baru jika generasi milenial dipandang sebagai kaum yang boros. Generasi yang terbentang dari kelahiran tahun 1981 sampai 1996 ini hidup di era yang lekat dengan teknologi. Oleh karenanya, kehidupan generasi ini serba praktis, serta mobilitas yang sangat dinamis.

Mengutip data yang dihimpun oleh Tirto, kaum milenial paling banyak menghabiskan untuk hal-hal yang bersifat konsumtif. Contohnya seperti makan di luar, alkohol, menonton konser, bioskop, hura-hura, dan belanja bahan makanan. Sebanyak 71,4 persen responden yang di survei menghabiskan uangnya untuk makan di restoran.

Temuan yang hampir serupa datang dari GoBankingRates yang menyatakan bahwa generasi milenial juga menghabiskan uangnya untuk hal-hal konsumtif seperti kopi, makan di luar, pakaian, dan alkohol. Pengeluaran lain yang tak kalah besar adalah untuk pakaian, aksesoris, tiket konser, dan moda transportasi online.

Imbas dari konsumtifnya generasi milenial menyisakan beberapa persoalan. Salah satunya adalah prediksi bahwa generasi ini akan sulit untuk memiliki rumah. Berdasarkan data yang dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), saat ini sebanyak 81 juta orang dari generasi milenial diperkirakan belum memiliki rumah. Atau setara dengan 31 persen dari total penduduk Indonesia.

Tentunya permasalahan ini bisa dihindari dengan satu cara, yaitu menabung. Saat ini banyak sekali jasa yang menawarkan pengelolaan keuangan seperti financial advisor, atau jika malas berkonsultasi anda bisa mempraktikkan berbagai cara untuk mengatur pemasukan dan pengeluaran anda secara mandiri.

Salah satunya adalah menggunakan cara yang kerap diterapkan oleh orang Cina. Tingkat menabung di negeri Tirai Bambu ini tergolong tinggi dibandingkan negara lain. Para penduduk negara ini telah terbiasa menabung hingga 50 sampai 60 persen dari total penghasilan mereka. Bila terlihat cukup ekstrim, anda bisa memakai cara lainnya untuk mengatur keuangan.

Salah satu cara lainnya adalah dengan memakai cara yang disebut dengan “50/30/20 Budget Rule”. Teknik ini dipopulerkan oleh senator kenamaan Amerika Serikat, Elizabeth Warren. Angka 50, 30, dan 20 ini merupakan pembagian dari penghasilan anda perbulannya.

Proporsi 50 persen adalah untuk kebutuhan. Kategori ini meliputi kebutuhan pokok yang reguler anda keluarkan tiap bulannya. Seperti makanan, tempat tinggal, transportasi, asuransi kesehatan, asuransi jiwa, dana darurat, uang komunikasi, sedekah atau pemberian pada orang tua.

Selanjutnya tentu adalah bagian yang menyenangkan, yakni keinginan. Dengan presentase sebesar 30 persen. Anda bisa menyisihkan gaji untuk hal-hal yang anda gemari. Contohnya seperti tiket konser, tiket bioskop, makan di luar, membeli barang baru, atau liburan. Pada pembagian ini yang jelas setiap rincian adalah hal-hal yang bisa ditunda pembeliannya.

Bagian terakhir, pembagian sebesar 20 persen sebaiknya anda sisihkan untuk tabungan dan investasi. Proporsi ini termasuk dana darurat bila belum memilikinya. Investasi bisa menjadi sumber pemasukan lain selain pekerjaan utama anda. Saat ini banyak bentuk investasi yang bisa anda ikuti, seperti reksadana, jual beli emas, deposito, saham, dan jenis investasi lainnya.

Cara-cara diatas bisa anda gunakan untuk menyiasati pengeluaran yang kurang terkontrol. Anda juga bisa menyesuaikan cara yang mana yang sesuai dengan penghasilan perbulan. Namun hal terpenting yang harus diperhatikan adalah konsisten dengan perencanaan yang anda buat.

Sebaik-baiknya rencana keuangan yang dibuat tak akan berhasil bila anda tergoda menghabiskan uang untuk hal-hal yang konsumtif. Mengontrol gaya hidup juga menjadi cara untuk mengatur pengeluaran anda agar tetap menyisakan tabungan untuk masa depan.

Karena kita tak hanya hidup untuk masa sekarang, masa depan juga perlu dipersiapkan guna menjalani masa tua yang menyenangkan.