Ironi Menakutkan Pada Nikmat Botol Minuman Keras Kelas Rumahan

Terdapat beragam merk minuman keras, dari yang berkelas high-end, hingga yang pas dikantong para pemuda kere dengan penghasilan tak lebih dari 10 juta per dasawarsa. Terutama di Indonesia, jamaknya unsur budaya dan kekayaan sumber daya alam yang melimpah menjadikan negara di lintang katulistiwa ini memiliki rentetan minuman-minuman keras tradisional nomer wahidnya.

Seiring berkembangnya waktu, ditengah merosotnya presentase penghasilan perkapita bangsa, ketatnya regulasi dan tingginya pajak yang dibebankan pada industri minuman beralkohol, harga minuman keras naik tajam. Namun mayoritas masyarakat kecil mencari cara untuk tetap menikmati mabuknya.

Seperti kata Silampukau di lagunya yang berjudul Sang Juragan, “Anggur, vodka, arak beras. Lebih enak, campur potas” yang menyoroti betapa nekatnya beberapa kalangan di negeri ini untuk bisa mabuk. Sebuah ode yang menggambarkan betapa mirisnya pasar alkohol di Indonesia. Minuman keras oplosan jadi idaman para kantong kerontang. Di dalam nya, komposisi zat mematikan yang tak pantas hadir dalam tubuh bersemayam. Bentuk ancaman nyata yang faktanya jadi primadona.

Minuman beralkohol dengan proses fermentasi a la rumahan juga jadi primadona. Mental DIY (do it yourself)  jadi pembelaan dalam rentetan produksinya. Tidak ada pengukuran akurat tentang kandungan zat. Patokan nya satu, “kemarin abang itu tidak keracunan minum ini” Beberapa bahkan berani menjamin kualitas dengan embel-embel kadar alkohol mencapai 40%. Padahal sejatinya, proses fermentasi rumahan tidak akan bisa mencapai titik persen tersebut. Kemungkinan nya satu, terdapat kandungan Metanol dalam botol-botol anggur DIY itu.

Sebelum masuk ke pokok pembahasan, mari sedikit membahas perbedaan Etanol dan Metanol secara singkat. Baik Etanol maupun Metanol merupakan senyawa hasil fermentasi ragi yang mengandung alkohol. Padat kata, Etanol merupakan senyawa alkohol yang aman untuk tubuh manusia (dalam takaran tertentu). Sedangkan Metanol merupakan senyawa alkohol yang tidak aman untuk tubuh, karena digunakan untuk keperluan industri, nama yang cukup umum dari metanol adalah spirtus.

Sedikit mengutip keresahan dari salah satu thread twitter Irvan Kartawira, seorang Ph.D pada ranah Agroindustrial Tech, yang menjelaskan ketidakmungkinan proses fermentasi dengan media ragi dapat menciptakan kadar alkohol lebih dari 12%. Kecuali si pembuat melakukan proses distilasi rumahan yang tentunya tidak dianjurkan. Karena dikhawatirkan tidak memiliki standar pengecekan yang mumpuni, berbeda dengan lab.

“Kalau di atas itu kadar alkoholnya, maka itu pasti hasil distilasi. Bisa naik ke 20-40%. Karena ini kondensasi uap, produknya jernih. Bening. Dan di sini resiko muncul: methanol. Fermentasi minuman itu tujuannya bikin etanol, jenis alkohol yg emang bisa diminum. Masalahnya, ragi ga bisa disetir, dia juga bikin jenis alkohol lain yg bahaya buat manusia: methanol.” Cuit Irvan pada akun twitter nya.

“Metanol dibikin lebih sedikit oleh ragi daripada etanol, makanya nggak keliatan efeknya di minuman yg nggak didestilasi. Tapi begitu didestilasi, ceritanya lain. Destilasi dilakukan dengan manasin hasil fermentasi, terus uapnya dikumpulin. Nah, karena metanol titik didihnya cuma 64-65°C, dia bakal nguap duluan. Kalau nggak hati2 misahinnya, metanol ini bakal kekumpul di produk. Bisa sampe kadar yg cukup utk membutakan mata bahkan mematikan” tambah Irvan.

Berbahayanya minuman-minuman beralkohol oplosan maupun fermentasi rumahan dengan embel-embel kadar alkohol tinggi akan tetap mengancam. Harga murah jadi daya jual, nyawa jadi taruhan dibalik ironi ini. Jadilah pemabuk yang bijak dengan lebih memikirkan kandungan dalam minuman. Tetap pintar!