Membiasakan Diri Menyongsong Kematian

Banyak sudah yang dapat kita ambil hikmahnya dari peristiwa pandemi ini, yang terbesar mungkin adalah keinginan untuk memulai lagi segala bentuk kebaikan demi kehidupan yang lebih indah dan kepribadian yang lebih siap dalam rangka menyongsong kematian.

Selama ini kita mungkin tergolong manusia yang mudah iri, sehingga kerap kali muncul penyakit hati, di mana aku kamu dan mereka terbiasa menjadi dengki ketika melihat buah sukses yang sedang dilahap oleh teman sendiri. Atau Anda sering mengalami wujud dengki dalam bentuk lain, yaitu pikiran dan jiwa terhantui oleh rasa-rasa yang tidak perlu, semisal mendadak menjadi pemurung dan tidak mau dekat dengan siapapun, karena merasa tidak berprestasi, dijauhkan dari bakat, dan hanya memiliki tali pertemanan yang tidak melebar atau itu-itu saja. Sehingga apapun yang Anda kerjakan terasa percuma, ibaratnya hanya memenuhi kuota kehidupan hingga ajal menjelang.

Nah, mumpung kita sedang ‘dipaksa’ berdiam diri di rumah saja, mari dimanfaatkan bersama untuk menjadi orang yang mau berpikir lagi, sering-sering instropeksi, serta mau menerima apa yang sudah menjadi takdir kita dengan hati yang lapang dan tulus. Dengan menjalankan hal-hal sederhana barusan, otomatis dukungan positif dari semesta pun akan berpusar di kitaran senyawa kita, dan lambat laun merontokan pikiran-pikiran negatif yang selama ini selalu menghambat perjalanan kita.

Walhasil jika kita mendadak dihadapkan dengan situasi terburuk dari dunia tempat kita tinggal bersama, Anda sudah siap dan memiliki keyakinan, bahwa apapun yang terjadi di kehidupan selanjutnya nanti adalah yang terbaik bagi Anda. Ini tidak ada kaitannya dengan agama, hanya ide untuk mengembalikan mental yang sempat rapuh, dalam rangka persiapan menghadapi hari akhir kita semua. Atau kalimat singkatnya seperti judul di atas, membiasakan diri menyongsong kematian.