Wabah semakin banyaknya orang yang menggemari mie instan, entah itu dari merek apa saja, ternyata sudah menjangkiti seluruh penduduk bumi. Iya, seluruh bumi, bukan hanya Indonesia saja, tapi seluruh penghuni planet ini. Bayangkan, demam ini sudah terjadi 40 tahun lebih, dan semakin ke sini, pemujanya kian meningkat. Mengapa mie instan?

Mengapa juga banyak larangan dalam hal mengonsumsi mie instan, padahal enaknya luar biasa. Dan, di Afrika sana, banyak orang yang merasa bahwa salah satu brand mie instan ternama asal Indonesia asalnya dari mereka. Sial. Sementara di sini para orang tua sibuk kampanye larangan kurang-kurangi makan mie instan, di balik itu semua mereka sendiri sibuk luar biasa mencari jenis makanan ini saat kelaparan di pagi maupun malam hari. Mengapa mie instan?

Padahal, jika dirata-rata, 3 dari 5 rumah di seluruh pelosok Nusantara penghuninya memakan mie instan sekitar 2 hingga 3 bukus per 2 harinya. Nah, dari sini kita bisa mengambil algoritma, bahwasanya tidak hanya rokok saja yang memberi masukan pajak besar terhadap negara, industri per mie instan-an pun harusnya berkontribusi banyak. Coba saja Anda mulai untuk berpikir ikutan di dalam kompetisi industri ini, karena secara matematika, sepertinya bakal banyak uang yang dihasilkan dari sini. Mengapa mie instan?

Beberapa pemain baru mulai nampak hilir mudik dalam industri ini, terlihat dari merebaknya puluhan merek mie instan yang terdampar di pelbagai pojokan Mini Market maupun Supermarket favorit kita. Itu baru bagian convenience store saja, bayangkan warung-warung tradisional dan pedagang-pedagang yang menjajakannya menggunakan sepeda, gerobak, maupun kayu tanggungan, sungguh edan, kan?

Yuk, mari kita renungkan penolakan-penolakan tak berguna terhadap hal-hal yang sering diperdebatkan belakangan ini. Sedikit-sedikit, Gen X memanggil anak zaman sekarang dengan sebutan generasi Micin. WTF. Balikan lagi saja ke zaman kita masih cimit, berusia di bawah 10 tahun, ingat, kan? Betapa mie-mie instan tersebut menghiasi hari-hari kita dengan ceria, entah itu saat akan mulai beraktvitas, pulang sekolah, malam hari, hingga tengah malam. Jangan mungkir, kalau kita memang pernah mengutil waktu hanya untuk memasak air dan merebus mie instan favorit ditabur sayur secim dan hamparan cabe rawit. Enak, kan? Sekali lagi, ini bukan doktrin untuk berpikir enaknya saja, tapi, kalau memang sudah enak, dan dilakukan hampir setiap orang, sudahlah, budaya tersebut jangan dibantah, apalagi dianulir. Jangan lagi ada pertanyaan, mengapa mie instan?