Depresi di Tengah Korona

Banyak orang yang mulai gelisah akan nasib mereka ke depannya, bagaimana usaha akan berlanjut jika pemasukan benar-benar berhenti? Akan seperti apa bisnis yang dia jalankan jika permintaan sama sekali tidak ada? Jualan aku akan seperti apa di hari ini, jika berdagang pun tak boleh.

Pertanyaan-pertanyaan tadi terus mengalir bersama hari-hari, menggelinang dari detik ke detik, di mana kita semua tidak pernah tahu secara pasti, akhir dari demam ini akan seperti apa. Yang pasti dampaknya sudah mulai sangat terasa, di mana beberapa jenis usaha telah mencapai masa surut, lalu beberapa pebisnis pun mulai menutup usahanya.

Mereka depresi, kalut, ketakutan, dan tidak pernah menyangka akan tiba di masa seperti sekarang. Memang, akhirnya kita semua akan menganggap ini adalah ujian untuk dikaji secara massal sebagai fase instropeksi diri, biar kita semakin mengerti arti refleksi diri, bagaimana cara menghargai hidup, menghargai sesama, menghargai anak, menghargai pasangan, hingga kembali berproses untuk membuat sebuah hubungan yang baik terhadap Tuhan dan kepercayaannya masing-masing.

Selayaknya umat yang sedang depresi, ada baiknya hal-hal negatif tersebut dicegah dengan cara-cara sederhana, semisal dengan lebih mendekatkan diri lagi kepada anggota keluarga yang lain, lalu melatih dan meningkatkan skill kreatif kita, kemudian mempertajam hobi-hobi kamu secara online, juga mencoba menggali potensi bakat kita di bidang lainnya, sehingga setelah setelah badai ini reda, kemampuan diri kita pun kian bertambah. Walhasil, ketika kita kembali ke masyarakat, nilai jual kreatif kita pun semakin tinggi.

Yuk, coba saja tips di atas, karena toh tidak ada salahnya juga untuk dilakukan.