Cinematherapy: Metode Self Healing yang Menyenangkan

Film seringkali menjadi media untuk menyuarakan sebuah isu ataupun permasalahan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Kerap dijadikan sarana hiburan, nyatanya film juga memiliki manfaat lain dalam bidang kesehatan. Beberapa praktisi di bidang psikologi menyatakan jika film terbukti membantu penyembuhan pasien mereka. Metode penyembuhan biasa disebut dengan istilah Cinematherapy.

Metode penyembuhan penyakit kini tak hanya ditempuh dengan cara yang menyakitkan saja. Setelah musik dan tari, film juga terbukti mampu menjadi media yang membantu penyembuhan penyakit terutama yang berkaitan dengan psikis. Metode penyembuhan tersebut pertama kali dipopulerkan oleh seorang ahli psikologi bernama Gary Solomon. Ia menyebutnya dengan istilah Cinematherapy.

Dalam Cinematherapy, kegiatan menonton film dianggap mampu memicu pertumbuhan pribadi seseorang baik secara mental maupun spiritual. Melalui proses ini, metode Cinematherapy bekerja untuk membantu seseorang dalam mempelajari dirinya sendiri berdasarkan respon yang ia ciptakan saat melihat sebuah karakter atau adegan yang ia saksikan dalam sebuah film.

“Cinematherapy adalah proses dalam menggunakan film sebagai terapi pengobatan,” ujar Gary Solomon yang juga menulis buku “The Motion Picture Prescription and Reel Therapy”.

Pernyataan Solomon tadi juga diperkuat oleh Bronwyn Robertson, seorang konselor dan anggota The American Counceling Assotiation. Robertson mendeskripsikan film dan acara televisi sebagai pemberi efek penyembuh yang sangat kuat. Dirinya juga menilai bahwa cinematherapy membantu kinerjanya sebagai seorang terapis psikologi.

“Film bisa sangat kuat dan menjadi katalis yang transformatif. Sebagai seorang konselor profesional, saya telah menemukan jika fungsi pengobatan bisa digunakan secara efektif kepada pasien yang memiliki masalah sangat berat ataupun sulit dikendalikan,” ujar Robertson dikutip dari psychcentral.com.

Kesimpulan yang dikatakan Robertson tadi didapat setelah dirinya memakai film untuk penyembuhan para pasiennya. Beberapa film seperti “The Wizard of Oz” keluaran tahun 1939 hingga serial fiksi ilmiah “The X-Files” keluaran tahun 1993 telah dipakai Robertson untuk ribuan pasiennya. Ia menggabungkan cinematherapy dengan sebuah eksperimen dengan pendekatan penuh perhatian. Eksperimen yang dilakukan Robertson pun digambarkan sebagai hasil yang luar biasa.

“Para pasien menghubungi saya bertahun-tahun setelah menyelesaikan terapi. Mereka menyatakan bila penggunaan film dan serial televisi yang spesifik memiliki peran yang besar terhadap penyembuhan dan pertumbuhan spiritual mereka,” ungkap Robertson.

“Selama bertahun-tahun, saya menemukan fakta bila penerapan cinematherapy efektif untuk membantu mereka yang memiliki permasalahan kecemasan, kecanduan, depresi, kekerasan dalam rumah tangga, perasaan duka, gangguan panik, ketakutan sosial, gangguan makan, dan gangguan terkait trauma,” tambah Robertson.

Beberapa penelitian telah menjelaskan keefektifan cinematherapy untuk membantu orang dalam beragam usia dengan berbagai permasalahan yang mereka hadapi. Salah satunya studi pada tahun 2010, peneliti menggunakan cinematherapy untuk enam sesi terapi individual yang tiga di antaranya adalah anak berusia pra remaja di mana orangtuanya bercerai.

Penelitian ini menyajikan pertanyaan dan diskusi bagi para responden. Terapis yang terlibat juga menggunakan teknik ekspresif seperti penulisan kreatif, bercerita, dan drama. Hasil studi ini menunjukkan jika film membantu para responden untuk mengidentifikasi serta mengartikulasikan emosi.