Cerita biar lega. Belakangan makin banyak orang yang terganggu kejiwaannya, karena masalah yang sedang mereka alami dianggap seperti akhir dari kehidupan. Hal ini seperti sudah menjadi tren masa kini yang tak bisa dielakan lagi keberadaannya. Bagaimana cara mengatasinya?

Di sebuah pojokan rumah semi elit daerah Jakarta Selatan, seorang perempuan setengah baya sedang menangis sesenggukan akibat perceraian yang dia alami beberapa bulan sebelumnya. Banyak yang mesti dia hadapi secara individual sejak ketok palu pengadilan agama dituai untuk memenuhi keinginannya sebagai orang tua tunggal. Mulai dari pembiayaan sekolah buah hati, pencukupan dapur, bayaran pendidikan, hingga biaya operasional rumah. Minggu demi minggu berlalu, kesedihannya tak juga beranjak, dan ia seperti menjadi perempuan paling menderita sepanjang masa. Apakah perempuan butuh pergi ke psikolog atau psikiater? Karena dia harus cerita, biar lega.

Sementara itu di lain tempat seorang pria berusia 43 tahun sedang resah gundah gulana tak berkesudahan karena sejak dia menduda dan menjalani hubungan serius dengan beberapa orang, akhir ceritanya selalu mengenaskan. Merasa dia menjadi pangkal subjek pabrik objek-objek penderita, pria tersebut akhirnya menempatkan diri sebagai si pembuat masalah, pencari gara-gara, dan akar dari segala kesusahan orang lain yang pernah dekat dengannya.

Sial dianggap sebagai takdirnya, dan dia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dalam beberapa minggu ke depan, demi memenuhi jawaban atas kesia-sia-an dirinya selama ini. Kalau sudah seperti ini, siapa yang harus disalahkan? Harusnya dia punya seseorang sebagai tempat cerita, agar jiwanya menjadi lebih legowo.

Apakah ada pembenaran dari kedua cerita di atas? Anda sudah pasti bisa menjawabnya sendiri. Mereka hanya contoh dari populasi orang-orang yang merasa hidupnya selalu tertimpa musibah, malapetaka, serta gangguan di dalam jiwa-nya.

Penyalahan diri menjadi solusi terbaik, dan menganggap tidak berguna adalah jawaban paling aman dalam menyelesaikan masalahnya. Padahal, itu adalah omong kosong terbesar sepanjang sejarah kehidupan manusia. Sebaiknya bila Anda mengalami seperti dua kejadian di atas barusan, cari teman, kemudian cerita, biar lega.

Hal tersebut merupakan metode paling sederhana yang digunakan manusia untuk menceritakan segala penderitaan maupun keluh kesah, agar semua itu bisa dibuang jauh-jauh, hingga kita tidak lagi merana. Coba obrolkan masalah-masalah yang Anda anggap pelik dengan teman di kantor, atasan, maupun bawahan.

Jangan jadikan hal tersebut sebagai sesuatu yang tabu, karena jika dibicarakan, niscaya Anda akan lebih merasa tenang. Dan, akhirnya jumlah kesusahan pun satu persatu berkurang. Jangan hanya sekali, jika esok harinya Anda masih merasa perlu bicara, bahas lagi dengan teman-teman Anda. Tidak hanya teman kantor, sohib pergaulan, rekan olahraga, bahkan sepupu pun bisa Anda dapuk sebagai tempat berbagi yang akan membuat kita terlepas dari semua dilema.

Bila perlu, ajak ke Bar, Club, Beer House, atau Pub. Karena, tempat-tempat tersebut, seperti memberikan efek magis positif untuk membuat orang-orang yang berada di dalamnya merasa lebih senang, baik ketika berada di dalamnya, maupun setelah pulang dari situ.

Sudah banyak yang melakukan metode ini di berbagai negara, karena dampaknya sungguh luar biasa, benar-benar bisa membantu kita keluar dari masalah. Selain dengan memperbanyak bertemu orang-orang yang selalu optimis serta berpikiran positif, kurangi juga pergaulan dengan teman-teman yang selalu berburuk sangka dan kerap kali meng-konversi segala hal ke dalam bentuk negatif terlebih dahulu.

Jadi, kunci untuk tidak merasa menjadi orang paling susah di dunia itu kurang lebih: bicara biar lega, sering bersosialisasi dengan orang-orang berjiwa positif, hangout dengan mereka ke tempat yang memang sesuai dengan selera Anda, karena tak ada salahnya mencicip bir seminggu sekali atau dua kali. Dan yang terakhir, selalu bersyukur dengan kondisi Anda terkini. Cheers!