Hadirnya bencana pandemi COVID19 paling tidak mengajarkan beberapa fundamental yang kerap terlupakan namun sebenarnya punya dampak besar pada kesehatan dan kelangsungan hidup. Salah duanya adalah penggunaan masker pada kegiatan luar ruang dan budaya cuci tangan yang jelas masih minim diterapkan.

Kala September silam, siang hari terasa menguning, langit nampak kusam dan temperatur kian gersang. Saat itu pula Indeks Kualitas Udara ibu kota sedang berada di angka terburuknya, 165 yang masuk kategori tidak sehat. Anjuran penggunaan masker dalam aktivitas luar ruang pun lantang disuarakan berbagai pihak.

Selain mengurangi ancaman diri dari tingginya polutan di udara, pengunaan masker yang benar berfungsi pula menghindarkan manusia dari penyebaran virus pernafasan. Penggunaan masker secara tepat dapat mencegah organ pernafasan terpapar langsung dengan bakteri pernafasan penyebab penyakit.

Di luar masalah penggunaan masker, kesadaran mencuci tangan di Indonesia juga masih ada di level minim. Data dari UNICEF pada tahun 2017 sendiri mengatakan bahwa hanya 25,5 persen masyarakat Indonesia yang punya kesadaran mencuci tangan. Mirisnya lagi, hanya 8 persen masyarakat Indonesia yang dapat mencuci tangan dengan cara yang benar.

Tidak ada yang harus disalahkan dalam hal ini. Namun nampaknya butuh waktu lama mengubah dan mensosialisasikan kesadaran masyarakat akan pentingnya hal-hal kecil penunjang kesehatan seperti budaya mencuci tangan dan penggunaan masker saat berada di luar rumah. Sebuah pekerjaan rumah yang harus dikerjakan secara kontiniti hingga menjadi kebiasan positif baru masyarakat di Tanah Air.